Detektif Conan
Book

Versi Review dan Remake “Aku Ingin Menjadi Seperti Detektif Conan”

Jika sebelumnya kalian telah melihat atau bahkan membaca postingan sebelumnya tentang cerpen saya tentang Detektif Conan, maka postingan kali ini adalah versi revisi dan remakenya. Bagi yang belum tahu, silahkan cek postingan pada link berikut. Langsung saja di bawah ini saya lampirkan versi revisi dan remakenya.

Saya Ingin Menjadi Seperti Detektif Conan

Pagi itu waktu saya berangkat ke sekolah, terdengar suara jeritan dari rumah bernomor 333 yang tidak berpenghuni. Jeritan yang aneh dan saya juga tidak tahu suara apa itu. Saya segera mempercepat langkah sampai melewati tikungan. Setelah itu, saya bernafas dengan lega, tetapi tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah belakang dan tidak lama kemudian satu bayangan tangan menyentuh pundak bahuku. Tanpa sempat berpikir panjang, saya pun segera berlari dan sampai ke sekolah yang berjarak sekitar 600 meter.

Setelah itu, saya masuk ke kelas dan menyapa Hendra, teman sebangku saya di kelas 1 SMA ini. Hendra memandangku dan berkata “Pagi Ko”, Riko itu nama lengkapku. Hendra lalu bertanya padaku “Ko, kok mukamu pucat sampai begitu?”. Kemudian saya menceritakan cerita saat akan pergi ke sekolah, sampai terdengar jeritan di rumah nomor 333. Waktu itu temanku Syamsul baru datang dan ikut mendengar cerita ini. Saat saya menceritakan bagian ada yang menyentuh pundak bahuku sambil berteriak, tiba-tiba Syamsul tertawa terbahak-bahak. “Ada apa Sul?”, tanya saya. Syamsul belum berhenti tertawa sampai kira-kira 1 menit, setelah itu dia berkata “Sebenarnya yang menyentuh pundak bahumu itu saya Ko!, saya menjerit karena ingin memanggilmu, tapi kamu malah lari”. Syamsul kemudian mulai tertawa lagi, tetapi kali ini tidak hanya dia yang tertawa, Hendra dan saya pun ikut tertawa bersama. Walaupun begitu, dalam hati saya bergumam “Bagaimana dengan suara jeritan yang terdengar di rumah  nomor 333?”. Pertanyaan itu terus menggangguku sampai waktunya pulang sekolah.

Ketika akan melewati rumah nomor 333, saya melihat banyak orang berkerumunan dan berkumpul. Beberapa orang diantaranya memakai seragam polisi. Saya pun berlari mendekati rumah itu dan bertanya apa yang terjadi. Seorang warga menjawab “Di dalam rumah ditemukan mayat seorang laki-laki berumur 37 tahun meninggal gantung diri”. “Apa? gantung diri!” balas saya. Kemudian saya pergi mendekati salah seorang polisi dan bertanya “Apakah bapak ini meninggal kira-kira jam 7 pagi pak?”. Polisi itu terkejut dan berkata “Bagaimana kamu tahu dek?”. Saya pun menjelaskan, sebenarnya waktu berangkat sekolah dan melalui rumah ini ada terdengar suara jeritan. “Mayat ini ditemukan pada pukul berapa, Pak”, saya bertanya lagi pada pak polisi tersebut dan dia pun  menjawab “Pukul satu siang, ketika anjing tetangga menyalak di depan rumah ini tanpa henti”. “Hei kamu! cepat bantu kami di sini!”, jerit salah seorang polisi kepada polisi itu. Polisi itu lalu pergi dan para warga terutama para tetangga diminta keterangannya dan ditanyakan apakah ada kejadian aneh di rumah itu sebelumnya. Lima puluh meter dari rumah nomor 333, yaitu di sebelah kiri, kanan dan depan tinggal para tetangga yang tinggal sendirian.

Tetangga pertama bernama Aki, berumur 41 tahun, seorang tukang kayu, dan tinggal di sebelah kiri rumah tersebut. Aki bekerja dari pagi sampai sore di rumahnya. Dia memelihara seekor anjing. Anjing tersebutlah yang menemukan mayat di rumah bernomor 333. Menurut keterangannya, dari pagi sampai jam 1 siang, dia tetap dirumah untuk bekerja. Setelah mendengar anjingnya terus menyalak di depan rumah kejadian, diapun curiga dan pergi memeriksa tempat kejadian. Pada waktu itulah dia menemukan mayat tergantung di dalam rumah. Kemudian, dia masuk paksa ke dalam rumah dan menurunkan mayat dari tempat gantungannya, lalu memanggil polisi setelahnya.

Selanjutnya, tetangga kedua yang berada di sebelah kanan bernama Sayati, berumur 24 tahun. Ternyata Sayati bekerja sebagai perawat di rumah sakit yang sama dengan korban. Menurut keterangannya, dia bekerja shift malam sehari sebelumnya. Jadi pada waktu kejadian, dia masih terlelap di rumahnya. Dia baru bangun setelah mendengar suara keramaian orang yang berkumpul di tempat kejadian.

Terakhir, tetangga ketiga yang tinggal di depan rumah bernomor 333 adalah Gaki. Gaki saat ini berumur 21 tahun dan merupakan seorang mahasiswa yang sedang menganggur. Menurut keterangannya, pada malam itu dia dan beberapa temannya mengadakan reuni. Temannya tinggal dengan dia malam itu, sampai pada waktu kejadian korban ditemukan sebagai mayat. Malam itu mereka begadang dan tidak mendengar apa-apa kecuali suara mesin pemotong kayu yang sebentar berhenti dan kemudian tidak terdengar lagi.

Setelah mendengar keterangan mereka, saya pun segera pulang, karena perut ini sudah tidak tahan dengan rasa lapar lagi. Walaupun begitu, saya masih terus memikirkan keterangan para tetangga tersebut. Waktu menunjukan jam 4 sore dan acara kesukaan saya Detective Conan akan ditayangkan. Saya menontonnya sampai jam setengah 5 sore. Di episode kali ini, dikatakan orang pertama yang menemukan mayat sangat ketakutan. Hal ini mengingatkanku pada Aki, si tukang kayu. Dia mengatakan bahwa setelah melihat mayat itu tergantung, lalu dia menurunkannya tanpa ada rasa takut maupun terkejut. Baru kemudian memanggil polisi.

Saat itu saya segera berlari ke kantor polisi, karena telah menemukan siapa yang paling dicurigai sebagai pelaku pembunuhan tersebut. Saat sampai di kantor polisi, Aki si tukang kayu telah diborgol. Kemudian, polisi yang berbicara denganku tadi siang mengatakan “Suara yang kamu dengar tadi pagi adalah jeritan korban karena dipukul oleh tukang kayu”. Setelah mendengar ucapan polisi tersebut, yang ternyata pembunuhnya sama persis dengan siapa yang saya tebak, ada sedikit rasa senang karena tebakanku benar, walaupun tanpa bukti.

Semenjak kejadian itu, saya semakin tergila-gila untuk menjadi detektif. Bukan hanya itu, saya pun bertekad untuk jadi lebih berani dan tidak penakut lagi. Apalagi dikejutkan oleh suara teriakan Syamsul.

Selesai!

Bagaimana dengan hasil revisi cerpen di atas? Semoga lebih baik ya. Satu hal yang saya yakin, setidaknya cerpen ini lebih mudah dibaca, karena tanda bacanya jauh lebih baik dari yang saya tulis saat masih SMA.

Leave a Reply