Detektif Conan
Book

Cerita Ala Detektif Conan

Pada postingan kali ini, saya menulis ulang salah satu cerpen yang merupakan tugas Bahasa Indonesia saat kelas 1 SMA. Saya masih teringat cerita ini, karena sakit saat hari pengumpulan tugas. Kemudian saat sembuh, hanya saya sendiri yang maju ke depan kelas untuk membaca cerpen ini. Cerpen ini mendapat nilai B+ pada waktu itu. Nilai yang lumayan bagus. Ok, cukup basa-basinya, berikut adalah cerpen tersebut yang dicopas pada blog ini tanpa mengubah apapun.


Aku Ingin Menjadi Seperti Detective Conan

Pagi itu waktu aku berangkat ke sekolah aku terdengar jeritan dari rumah bernomor 333 yang tidak berpenghuni. Jeritan yang aneh aku tidak tahu apa itu suara laki-laki atau perempuan. Aku mempercepat langkahku sampai melewati tikungan. Aku bernafas dengan lega, tapi tiba-tiba terdengar suara jeritan dari belakang dan satu bayangan tangan menyentuh pundak bahuku tanpa sempat berpikir aku segera berlari dan sampai ke sekolah yang berjarak 600 meter dari rumahku.

Setelah itu aku masuk ke kelas dan menyapa Freedy teman sebangkuku “Pagi, Fred”. Freedy memandangku dan berkata “Pagi Rix:, Rix itu namaku. Nama yang sangat kusukai. Nama itu diberi oleh ayahku meninggal setahun setelah aku dilahirkan. Sebulan setelah itu ibuku sakit dan meninggal 3 hari kemudian. Semenjak itu aku tinggal bersama nenekku. Baiklah kembali ke sekolah. Freedy kemudian bertanya lagi padaku “Rix, kenapa mukamu pucat sampai begitu”, kemudian aku menceritakan cerita saat aku akan pergi ke sekolah sampai terdengar jeritan di rumah No.333. Waktu itu temanku John baru datang dan ikut mendengar ceritaku. Saat aku menceritakan ada yang menyentuh pundak bahuku sambil berteriak. Tiba-tiba John tertawa terbahak-bahak. “Ada apa John”, tanyaku. Dia belum berhenti tertawa sampai kira-kira 3 menit setelah itu dia berkata “Sebenarnya yang menyentuh pundak bahumu itu aku”, aku menjerit karena ingin memanggilmu, tapi kamu malah lari. John kemudian mulai tertawa lagi tetapi kali ini tidak hanya dia yang tertawa, Freedy dan aku pun ikut tertawa, tapi dalam hatiku aku bergumam “Bagaimana suara jeritan yang kudengar di kamar No.333 ?”. Pertanyaan itu terus menggangguku sampai aku pulang ke sekolah.

Ketika akan melewati rumah No.333 aku melihat ramai orang berkumpul dan beberapa orang diantaranya memakai seragam kepolisian. Aku berlari mendekati rumah itu dan bertanya apa yang terjadi. Seorang warga menjawab “Di dalam rumah ditemukan mayat seorang laki-laki 17 tahun meninggal gantung diri”. Apa gantung diri aku berkata dalam hatiku, kemudian aku pergi mendekati seorang polisi dan bertanya “Apakah dia meninggal kira-kira jam 07:00 WIB?”. Polisi itu terkejut dan berkata “Bagaimana kau tahu dik?”. Sebenarnya waktu aku pergi berangkat sekolah seperti biasanya yaitu sebelum pukul 07:00 WIB dan ketika melewati rumah ini aku terdengar ada jeritan, jawabku. “Mayat ini ditemukan pada pukul berapa, Pak”, Aku bertanya lagi pada dan pak polisi menjawab “Pukul 13:00 WIB ketika anjing tetangga menyalak di depan rumah ini tanpa henti “Hei, kamu cepat bantu kami di sini”, jerit seorang polisi kepada polisi itu. Polisi itu lalu pergi dan para warga terutama para tetangga dimintai keterangan dan ditanyai apakah ada kejadian aneh di rumah itu sebelumnya. Lima puluh meter dari rumah yaitu di samping kiri kanan dan depan tinggal para tetangga yang tinggal sendirian.

Tetangga pertama yang tinggal di samping kiri bernama Aki berumur 31 tahun pekerjaannya adalah tukang kayu dan dia bekerja dari pagi sampai sore di rumahnya. Dia memelihara seekor anjing (anjing yang menemukan mayat tersebut) menurut keterangan dari pagi sampai pukul 13: 00 WIB dia tetap dirumah kerja dan setelah terdengar anjingnya terus menyalak dia terus pergi ketempat kejadian dan dia menemukan mayat telah tergantung di dalam rumah lalu dia masuk ke rumah dan menurunkan mayat dari tempat gantungannya dan memanggil polisi.

Tetangga kedua yang tinggal di samping kanan bernama Sayati berumur 21 tahun bekerja sebagai jururawat dia mulai bekerja dari jam 09:00 WIB sampai dengan 13:00 WIB. Jadi pada waktu pagi dia masih tetap di rumah menurut keterangannya pada waktu kejadian dia sedang tidur karena lelah pulang dari kerja. Dia baru terbangun setelah mendengar suara ramai orang berkumpul dan sangat terkejut karena yang meninggal adalah Dokter yang juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan dia.

Tetangga ketiga tinggal di depan rumah itu bernama Gaki berumur 21 tahun seorang mahasiswa yang menganggur. Menurut keterangan pada malam itu dia dan beberapa temannya mengadakan reuni. Temannya tinggal dengan dia malam itu sampai pada waktu kejadian ditemukan mayat. Pada malam itu mereka bergadang dan tidak mendengar apa-apa kecuali suara mesin pemotong kayu yang sebentar berhenti dan kemudian tidak terdengar lagi.

Setelah mendengar keterangan mereka, aku segera pulang karena perutku sudah tidak tahan dengan rasa lapar lagi, tapi aku tidak bisa melupakan kejadian itu. Waktu menunjukan pukul 16:00 WIB film kesukaanku Detective Conan akan ditayangkan aku pun menontonnya sampai jam 16:30 WIB. Di film itu dikatakan orang pertama yang menemukan mayat sangat ketakutan itu mengingatkanku pada tukang kayu yang mengatakan setelah melihat mayat itu tergantung lalu dia menurunkannya tanpa ada rasa takut maupun terkejut.

Hatiku gembira karena rasanya aku telah menemukan siapa pembunuhnya aku segera berlari pergi ke kantor polisi. Sesampainya di sana aku melihat Aki si tukang kayu dibogrol dan polisi yang berbicara denganku tadi mengatakan “Suara yang kau dengar tadi pagi adalah jeritan korban karena dipukul tukang kayu”. Setelah mendengar ucapannya hatiku menjadi lega dan bangga karena dugaanku ternyata tepat walaupun tanpa bukti.

Sejak kejadian itu aku menjadi seorang yang lebih berani dan tentu saja aku takkan dikejutkan oleh si John lagi.

Selesai!


Nah, dari cerpen di atas, pasti kalian merasa ada yang aneh dan tidak masuk akal bukan? Berikut akan saya list beberapa kekurangan dari cerpen tersebut:

  • Info tentang background keluarga tokoh utama tidak terlalu penting dalam cerpen ini. Buat apa menjelaskan 1 paragraph tentang kondisi ayah dan ibu tokoh utama, jika tidak membantu plot dalam cerita ini. Lagipula ini adalah sebuah cerpen, jadi tidak perlu ada hal-hal detail yang tidak diperlukan dalam alur cerita.
  • Nama-nama karakter yang tidak bernuansa lokal, seperti: Freedy, John, dan Rix.
  • Salah satu yang paling parah yaitu, tanda baca yang tidak tepat. Apalagi penggunaan titik koma yang sangat minim, sehingga menghasilkan kalimat yang panjang dan susah untuk dibaca maupun dimengerti.
  • Beberapa penggunaan kata yang tidak konsisiten, seperti rumah no. 333 yang kemudian ditulis juga menjadi kamar no. 333. Tentu rumah dan kamar adalah 2 buah objek yang berbeda.
  • Jam kerja jururawat yang tidak relavan, masuk jam 09:00 WIB dan selesai jam 13:00 WIB. Mungkin maksudnya jam 01:00 WIB, tetapi itupun tidak masuk akal jam kerjanya. Yah, saya juga tidak tahu apa yang saya pikirkan saat menulis bagian ini dimasa lalu :p.
  • Korban berumur 17 tahun. Rekan kerjanya jururawat yang berumur 21 tahun. Kemudian 17 tahun sudah menjadi dokter. Hmm!? kayaknya sudah sangat aneh dan tidak masuk akal, jadi tidak usah dijelaskan panjang lebar lagi tentang keanehan ini.
  • Kemudian satu hal yang saya tidak puas adalah tentang reaksi tokoh utama dalam cerita ini. Dimana reaksi pertama saat tahu tebakannya benar adalah bangga dan lega. Hmm sama sekali tidak ada empati :D.

Yah, sudah saya tulis beberapa kekurangan yang fatal dalam cerpen masa SMA saya. Berikutnya saya akan coba merevisi dan menulis ulang cerita di atas. Semoga versi remakenya lebih bagus atau paling tidak lebih masuk akal :p.

Leave a Reply