Kelas Penulis Skenario Ernest Prakasa
Book

Kelas Penulis Skenario Ernest Prakasa

Awalnya saya mendapat info Ernest mengadakan kelas skenario penulis adalah dari Youtube beliau. Karena tertarik sayapun langsung mendaftar kelas tersebut yang diadakan pada bulan February 2019. Eh atau January ya? Yah sudahlah yang penting pada awal tahun 2019 :D.

Nah, sekarang kenapa saya mendaftar dikelas ini? Padahal kan tidak ada hubungan dengan pekerjaan saya. Alasannya adalah karena saya hobby menulis. Jadi tidak ada salahnya kan belajar. Apalagi dengan iming-iming pamor artis dari pemberi materi dan berkesempatan bertemu salah seorang volunter stand up komedi Indonesia.

Terakhir, apa saja yang saya dapat di kelas tersebut? Tentu saja selain foto bareng Ernest Prakasa adalah materi yang berikan pada sesi tersebut. Isi materinya apa ya? Kasih tau ga ya? Janganlah ya, nanti ga ada yang ikut kelas ko Ernest lagi. Jadi, kalau tertarik silahkan daftar saja di kelas penulis skenario Ernest Prakasa edisi berikutnya. Oh ya dan berikut adalah hasil synopsis yang saya tulis setelah mengikuti kelas tersebut:

Sinopsis Kelas Skenario Ernest Prakasa

Alan yang berumur 32 tahun baru saja menyelesaikan kredit rumahnya. Sekarang dia baru saja dalam perjalanan pulang dengan mengendarai mobil baru yang baru saja dikreditnya. Sesampainya di rumah, Alan melihat Ayah dan Ibunya sedang perang dingin. Ternyata Ayah Alan baru saja kehilangan semua uang pensiunnya, karena tertipu oleh investasi bodong. Hal itu diketahui Alan dari adiknya yang saat ini masih bersekolah di kelas 3 SMA bernama Arai.

Kemudian Ayah Alan pergi meninggalkan rumah, karena disindir Ibu Alan saat makan malam keluarga. Keesokan harinya, Ayah Alan kembali bersama orang-orang bertampang seram. Ayah Alan pergi berjudi dan sekarang berhutang uang dengan jumlah besar pada lintah darat yang pulang bersamanya.

Keluarga Alan diberi waktu 2 minggu untuk melunasi hutang tersebut atau Ayah mereka akan dipenjarakan. Alan tidak punya pilihan, satu-satunya cara untuk melunasi hutang tersebut dalam waktu 2 minggu adalah menggadaikan rumah yang baru saja menjadi hak miliknya secara penuh.

Kemudian, Alan ingat pernah meminjamkan uang kepada 3 temannya, yaitu Said, Jumri dan Keko. Keesokan harinya Alan meminta cuti dari kantornya untuk menjumpai temannya, dengan harapan mereka dapat mengembalikan uang yang mereka pinjam.

Ternyata meminta seseorang mengembalikan hutang tidak semudah itu. Said yang seorang salesman malah memotivasi Alan dan mengatakan dia dapat menyelesaikan hal tersebut tanpa meminta dia mengembalikan hutangnya. Jumri yang pintar membalikkan keadaan, malah berhasil meminjam uang lagi dari cash yang terdapat di dompet Alan. Keko? Suami yang takut istri ini malah membiarkan istrinya mengusir Alan dari rumah. Memang penghutang lebih galak daripada pemberi hutang.

Alan yang pulang dengan tangan kosong, akhirnya membiarkan adiknya dan teman-teman SMA Arai menggunakan cara kasar untuk meminta hutangnya. Tapi ada daya, usaha adiknya gagal juga. Hingga akhirnya Ayah dan Ibu Alan juga ikut campur tangan dengan cara yang aneh kocak dan horor tentunya. Usaha keluarga Alan yang menjadi setan samaran akhirnya membuahkan hasil. Teman-temannya yang ketakutan berjanji akan melunasi hutang Alan keesokan harinya.

Kemudian yang terjadi malah sebaliknya. Jumri dan keluarganya melarikan diri entah kemana. Sedangkan Said yang mengetahui akal-akalan keluarga Alan, akhirnya memutuskan untuk tidak melunasi hutangnya. Hanya Keko yang berniat untuk melunasi hutang Alan, tetapi kemudian dihentikan juga oleh istrinya.

Akibat terlalu fokus meminta hutang kepada temannya, HRD kantor Alan yang selama ini tidak senang dengannya, memberitahu Alan bahwa dia akan dipecat dan diberi waktu 1 bulan untuk mencari pekerjaan baru. Alan yang sedang dalam suasana hati buruk malah melabrak HRD tersebut, hingga akhirnya dia dipolisikan, tetapi kemudian hal ini diselesaikan secara kekeluargaan, karena bos Alan masih berbaik hati.

Keputusan berat akhirnya diambil oleh Alan dan keluarganya. Mereka menggadaikan rumah untuk melunasi hutang Ayahnya. Mobil baru Alan juga ditarik kembali oleh dealer.

Tidak berapa lama setelah itu, Keko dan istrinya melunasi hutang Alan. Sehingga dapat membiayai hidup mereka sementara waktu, karena Alan belum mendapat pekerjaan. Selain itu, sekarang mereka juga menempati rumah yang ditinggalkan Jumri sambil menunggu temannya pulang untuk melunasi hutang. Yah, itu salah satu ide cemerlang dari Ibu Alan yang mengaku sebagai saudara jauh Jumri dari kampung.

Sekarang Alan, Arai, Ayah dan Ibunya membuka warung makan sederhana dari uang yang dilunasi Said. Ternyata kehidupan mereka setelah itu tidak seburuk yang Alan bayangkan. Alan sekarang tidak perlu memusingkan lagi tagihan kredit setiap bulannya. Hidup tanpa hutang itu lebih menyenangkan, daripada hidup mewah dengan cicilan dimana-mana.

Response

Oh ya dan setelah saya kirim email, ternyata mendapat balasan dari Engko Ernest yang sombong dan sibuk itu :D. Berikut respon email dari Ko Ernest:

halo masfran 🙂
menurut gue ceritanya relate dengan kehidupan sehari-hari tapi masih terlalu sederhana untuk jadi bahan film panjang, kalo film pendek mungkin masih cukup 🙂

regards,
@ernestprakasa

Widih senang donk ternyata tulisan saya dibaca Ko Ernest, walaupun beliau ini sibuk dengan segala jenis pekerjaannya.

Leave a Reply