Kepala Botak
Life Lessons

Saat Kepala Botak Membuat Orang Berasumsi

Kali ini saya akan menceritakan dampak hidup saya, setelah memutuskan untuk mencukur habis rambut saya alias botak. Ini merupakan kali kedua saya mencukur rambut menjadi botak atas keinginan dan keputusan sendiri. Kalau bukan atas keinginan sendiri mah waktu bayi pasti sering, atau ada juga yang terpaksa, seperti karena ikut ospek pas masuk kuliah.

Saya memutuskan mencukur botak rambut saya pada final Liga Champions 2019 antara Liverpool FC dan Tottenham Hotspurs. Walaupun saya katakan ini demi Liverpool, padahal sebenarnya bukan. Ini adalah keputusan sesaat dan atas keinginan saya sendiri. Alasannya? Ya pengen aja, tidak salah kan.

Saat saya mengatakan cukur botak ke abang pangkas rambutnya, tuh abang malah memperingatkan saya “apa benar? yakin ne?”. “Benaran dong bang, masa bohong sih :p.”. Saat itu juga, saya kembali flash back ke keadaan saat pertama kali memutuskan untuk mencukur habis rambut saya. Keadaannya sama waktu itu, abang pencukur rambutnya juga memperingatkan saya sekali lagi sebelum menjalankan tugasnya. Tentu saja kali ini abang pangkas rambutnya adalah orang yang berbeda. Toh, tempat pangkas rambutnya aja beda. Pada awal cukur perasaannya juga hampir sama, ada rasa deg-degan sama seperti sekarang. Bedanya, sekarang setelah selesai cukur saya merasa bertambah ganteng berkali-kali lipat. Beda dengan dulu, yang dimana saya merasa jelek dan menyesal, wkk. Padahal mah tetap jelek yah, hanya saja sekarang saya lebih tak tahu diri. Maklum faktor umur kali ya, tua-tua keladi :D.

Oh ya, ada beberapa hal yang saya ingat saat pertama kali menjadi botak. Hal yang pertama ini tentu saja tidak akan saya lupakan. Bagaimana tidak? seminggu setelah botak adalah saat dimana saya mendata diri di kantor kecamatan untuk membuat E-KTP. Jadilah foto E-KTP saya dengan gambar kepala botak dan masih seperti itu sampai sekarang. E-KTP tersebut selalu saya bawa kemana-mana dalam dompet ini. Sebuah penyesalan memang!

Hal selanjutnya adalah dari ibu saya. Ibu saya sampai bilang dan berpesan agar jangan pernah memotong rambut menjadi botak lagi. “Kenapa mom?”. “Karena kamu jelek kalau botak. Bibi kamu dan teman mama yang bilang saat di pasar”. What!!!??? ternyata kejelekan botak saya sampai menjadi bahan gosip ibuk-ibuk di pasar. Gosip buruk lagi tuh. Anyway sorry Ma, saya potong botak rambut ini sekali lagi, hahaha.

Kemudian, dari teman kampus, saya masih ingat waktu itu adalah saat semester akhir kuliah. Tahun dimana skripsi menjadi momok menakutkan bagi para mahasiswa. Teman saya sampai bertanya “Kenapa kamu botak? lagi stres ya? atau karena putus cinta?”. Hahaha, bukan teman, karena labil dan pengen aja.

Yah, begitulah asumsi dari keluarga dan teman-teman saat saya menjadi botak. Mudah-mudahan untuk kebotakan saya yang kedua kali ini, tidak ada asumsi-asumsi aneh lagi. Akhir kata, saya ingin akhiri dengan mendeklarasikan dan mengonfirmasi suatu hal, yaitu:

Botak
Botak

Bahwa tidak ada makhluk hidup yang terluka dari kebotakan ini. Semuanya atas dasar keinginan saya sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Tentunya semua ini saya lakukan tanpa alasan tertentu yang spesifik. Sekali lagi saya ingatkan agar semuanya menghargai privasi saya. Sekian dan terima kasih.

Masfran Zhuo

Leave a Reply