Medali Half Marathon di Candi Borobudur
Life Lessons,Run,Sport,Travel

Road to Borobudur Marathon: Half Marathon Perdana

Saya mendaftar half marathon pertama di event Borobudur Marathon. Event Borobudur Marathon ini diikuti oleh banyak sekali peserta baik dalam negeri maupun yang dari luar negeri. Selain pelari, penduduk lokal juga sangat antusias dengan event ini. Bayangkan, sepanjang rute lomba lari ini, banyak sekali warga lokal yang menonton kita lari sambil memberi semangat. Selain itu, ada juga anak-anak sekolah dengan seragamnya yang menunggu dan menyoraki di depan jalan sekolah. Ada juga masyarakat yang berpakaian adat lokal, ada yang sambil menarikan tarian adat, ada juga yang sambil memainkan musik tradisionalnya di tepi jalan. Belum lagi ABG-ABG cantik berpakaian ala cheerleader dengan  teriakan ole-ole-nya. Beh, tambah semangat donk larinya :p. Memang tidak salah kalau kategori half marathon dan marathon di event Borobudur Marathon dinyatakan sebagai event lari terbaik untuk kategori tersebut pada tahun 2018. Tidak salah juga bagi saya untuk membuka virgin half marathon di event bergengsi ini.

Ok Ok, cukup basa basinya. Mari kita mulai cerita ketololan ini. Setelah kategori marathon start duluan. Sekarang giliran kami para peserta half marathon bersiap-siap untuk memulai larinya. Lomba lari pun dimulai setelah Bapak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah memberikan aba-aba. Satu, Dua, Tiga, Door! Ok saatnya berlari dan….. belum juga setengah kilometer saya sudah berhenti. Eits! tapi jangan salah sangka dulu, bukan menyerah kok, hanya panggilan alam. Kebetulan ada toilet umum, jadi buang air dulu, biar lancar larinya :D.

Kemudian, saya melanjutkan lari dengan pace yang lebih lambat dari saat latihan. Jujur saja, sampai detik itu, saya berlari paling jauh adalah 10K dengan pace 7km/jam. Nah, untuk lomba lari half marathon dengan jarak 21K ini, saya mulai dengan pace 10km/jam. Waktu itu, apabila ada anak kecil dengan seragam sekolah ataupun tidak yang melambaikan tangan meminta tepukan, akan saya sambangi dengan antusias juga. Bayangkan wajah gembira mereka saat ada pelari yang tos dengan mereka. Bukan cuma mereka sih, para pelari pun lebih semangat tentunya mendapat perlakuan seperti itu. Saat-saat berbagi semangat dan kebahagiaan seperti itu adalah salah satu momen yang tidak terlupakan dan membuat event Borobudur Marathon ini spesial.

Semakin lama berlari dan semakin jauh jarak yang ditempuh, semangat dan stamina kian memudar. Saya tetap bertahan dengan pace 10km/jam di 10 kilometer pertama. Lebih dari itu saya menyerah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental. Hal ini terjadi pada kilometer ke-13. Kilometer di mana ada sebuah candi, yang di mana banyak peserta berhenti di sini untuk berfoto. Sayapun berhenti di sana dan mengambil foto candi tersebut. Jujur saya sama sekali tidak berminat dengan candinya saat itu. Mengambil foto hanya cara saya untuk menutupi dan mengalihkan perhatian dari kegagalan ini. “Ayolah! hanya segitu! cuma itu kemampuanmu! di KM ke-13! dasar lemah!”. Beginilah rasanya saat kita mengikuti lomba lari, tetapi yang kita lakukan bukanlah berlari.

Tidak lama setelah itu, saya melanjutkan bergerak. Yah, walaupun dengan berjalan kaki. Tidak hanya 1 atau 2 kilometer, tetapi saya tetap berjalan sampai kilometer ke-3 atau 4. Semakin lama saya berjalan, semangat saya mulai terkumpul kembali, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental. Di kilometer selanjutnya sayapun mulai berlari lagi. Walapun sesekali tetap berhenti untuk berjalan, tetapi tidak mengapa, kali ini saya sudah bisa menghibur diri sendiri. It’s okay to walk as long as you move forward.

Jadi, lain kali jika kalian melihat perserta lari yang berjalan saat lomba lari, percayalah mereka sedang berjuang keras dengan diri mereka sendiri saat itu. Mereka bukanlah orang yang lemah, tetapi justru mereka adalah orang yang kuat, karena saat itulah fisik dan mental mereka sedang diuji. Nah, berikut ada sepotong paragraf yang saya baca dari situs Quora tentang kondisi seseorang yang berjalan saat lomba lari:

It’s fell bad to walk on run. Running or walking a marathon whatever you wanna say it is no joke, it takes a lot of dedication and at least 3–4 months of hard work or even more. That is insane or i say amazing. You have to be pretty damn depleted to start walking in the marathon. You’ve trained for months to get there, so to stop running, you’d be letting yourself down in a big way. That sounds a bit harsh, but it’s the reality.

This slideshow requires JavaScript.

Sekarang mari kita lanjutkan perjalanan lari saya yang sudah 3/4 ini. Dengan sisa jarak 1/4 atau lebih kurang 4-6 kilometer lagi, mental saya sudah jauh membaik dan secara fisik sudah mampu berlari lagi. Pikiran saya mengatakan saya bisa, walaupun ada sedikit lecet-lecet kecil pada jari kaki ini. Hal ini saya ketahui saat berhenti berlari untuk mengoles pain killer di salah satu stand yang disediakan panitia. Saat membuka sepatu dan kaos kaki, baru saya sadar lecet-lecet kecil ini yang membuat saya tidak nyaman berlari.

Setelah mengoles pain killer dan mengabaikan luka kecil tadi, saya mulai berlari lagi, kali ini dengan lebih percaya diri dan lebih bersemangat. Pain killer tadi lumayan membantu saya berlari cukup jauh kali ini, tetapi stamina dan fisik tidak bisa dibohongi. Tidak berapa lama kemudian, saya berhenti berlari untuk berjalan lagi. Kali ini berbeda, saya hanya lelah secara fisik, tetapi secara mental tidak ada yang berubah. Salah satu alasan fisik saya tidak mampu adalah karena jalan yang menanjak. Yah, tanjakan di akhir-akhir lomba bukan suatu hal yang mudah untuk ditaklukkan. Bukan hanya saya, banyak juga para peserta yang berjalan pada rintangan kali ini. Pada waktu itu, ada sepotong percakapan peserta lari yang menghibur dan tidak bisa saya lupakan sampai saat ini:

Cew: Gila ne panitia ya?! Kasih tanjakan setinggi ini di rute akhir lomba.

Cow: Iya gila panitianya, tapi lebih gila lagi kita yang ikut kan?!

Cew & Cow: Hahaha

Me: (Ngakak dan setuju dalam hati)

Setelah melalui tanjakan tersebut, ternyata masih ada sekitar 2-3 kilometer yang tersisa, padahal kukira tinggal sedkit lagi. Saat itu saya melalui sisa kilometer yang tersisa dengan kombinasi berjalan dan berlari. Sampai akhirnya, setelah masuk kembali ke kompleks Candi Borobudur, saya menggunakan semua sisa energi untuk berlari menuju garis finish. Ini bukan merupakan hal yang mudah, di satu sisi pikiran saya terus mendorong saya untuk berlari “Ayo sedikit lagi, lari saja!”, tetapi di sisi lain, fisik saya seperti akan mencapai batasnya. Akan tetapi, pada akhirnya mereka bekerja sama dan membawa saya berlari hingga menuju garis finish. Garis finish yang tidak mudah dan merupakan hal yang  membanggakan dalam hidup saya. Yah, saya menyelesaikan half marathon pertama saya dalam waktu 3 jam 32 menit dan 12 detik. Hurray! I made it to the finish line!.

Walaupun bukan waktu yang impresif, tetapi latihan yang dilakukan 1-2 bulan sebelumnya tidak sia-sia. Hal yang paling terasa adalah saat keesokan harinya setelah lari. Berbeda dengan lomba lari saya yang pertama, pas bangun pagi badan dan terutama kaki sama sekali tidak merasakan pegal-pegal yang berarti. Tampaknya latihan fisik memang sangat berguna.Yah begitulah ending cerita kebodohan saya, semoga kalian senang membacanya :p.

PS: Setelah itu saya absen berlari selama sebulan lebih :D. Remember, rest is part of training.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

Leave a Reply