Menara air di Alun-Alun Kota Magelang
Food,Life Lessons,Run,Sport,Travel

Road to Borobudur Marathon: Pengambilan Race Pack di Kota Magelang

Setelah malam sebelumnya ketinggalan kereta menuju Yogyakarta (berikut link cerita ketinggalan kereta), maka hari ini saya berangkat lebih cepat menuju Bandara Halim Perdanakusuma. Padahal penerbangannya jam 21:30 WIB, tetapi pukul 15:00 WIB saya sudah berangkat dari kosan saya di Kembangan, Jakarta Barat :D. Karena sudah datang cepat, jelas kali ini tidak ketinggalan pesawat donk, kalau ketinggalan lagi mah emang kelewatan.

Saya tiba di Bandara Adisutjipto, Jogja sekitar jam 11 malam. Dari sini saya naik ojek pangkalan menuju tempat penginapan yang dipesan melalui aplikasi Traveloka. Harga ojek pangkalan waktu itu 10K, sedangkan untuk penginapan sekitar 60K. Tempatnya adalah kosan yang bisa disewa perhari, dengan sebuah kasur dan kipas angin saja. Yah, sesuailah dengan harganya, lagipula saya hanya numpang tidur di sini, karena besok paginya sudah harus berangkat ke Magelang.

Paginya sekitar jam 6an saya sudah meninggalkan penginapan, dengan muka mengantuk, karena baru tidur sekitar jam 4an. Dari sini saya memesan ojek online menuju Bandara Adisutjipto lagi. Kali ini tujuan saya adalah memesan bus damri yang menuju ke Magelang seharga 50K. Ternyata saya tiba di waktu yang tepat, karena bus pertama pada jam 7 akan berangkat sekitar 10 menit lagi. Sambil menunggu, saya membeli gorengan sebagai sarapan yang dijajakan oleh seorang ibuk-ibuk di sana.

Perjalanan dari Jogja menuju Magelang ditempuh dalam waktu sekitar 1 setengah jam. Waktu itu saya turun di Mall Grand Artos Magelang, karena itu adalah tempat pengambilan race pack. Akan tetapi, waktu pengambilan race pack adalah pukul 10, selain  itu mallnya juga belum buka. Karena waktu itu angka jam belum menunjukan angka 9, maka saya memutuskan untuk berkeliling di sekitar Magelang terlebih dahulu.

Berdasarkan informasi dari aplikasi Google Trips, maka sayapun memesan ojek online menuju alun-alun kota Magelang. Di sini terdapat menara air yang merupakan salah satu ikon kota Magelang. Menara air ini dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda. Hebatnya menara air yang berusia lebih kurang 100 tahun ini masih berfungsi dan dikelola oleh PDAM kota Magelang saat ini.

This slideshow requires JavaScript.

Selain itu terdapat patung Pangeran Diponegoro yang sedang naik kuda dengan gagahnya di sisi timur alun-alun kota Magelang. Di bawahnya terdapat tulisan yang berarti BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG TAHU MENGHARGAI JASA JASA PARA PAHLAWANNYA. Patung ini dibangun pada tahun 1977 untuk menghargai perjuangan Pangeran Diponegoro di Magelang.

Di sisi barat terdapat Masjid Agung kota Magelang, di sisi selatan terdapat Kelenteng Liong Hok Bio dan di sisi utara terdapat Gerega GPIB Beth-El yang merupakan gereja tertua di Magelang. Berdirinya 3 tempat ibadah yang berbeda keyakinan ini di alun-alun kota Magelang menandakan bahwa masyarakat di sini menghargai keberagaman dan toleransi umat beragama. Hebatnya semua bangunan ini sudah berdiri jauh sebelum kemerdekaan Republik Indonesia.

Sayapun sempat masuk ke dalam kelenteng Liong Hok Bio. Di sana ada 2 orang koko yang lagi mengobrol. Melihat saya yang berdoa sambil beranjali saja, salah satu dari mereka menghampiri saya dan memberitahu saya untuk memakai dupa saja. Sayapun kemudian berdoa menggunakan dupa. Selesai berdoa/sembahyang, tidak lupa saya berdana di kotak amal yang terdapat di dalam kelenteng.

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, saya juga menyempatkan diri mencoba kuliner di Magelang, yaitu Kupat Tahu. Kupat tahu ini berada di Warung Tahu Pojok yang tidak jauh dari Alun-Alun Kota Magelang. Saya menjatuhkan pilihan makan di warung ini, karena mendapat info bahwa kupat tahu di sini adalah langganan Bapak SBY (Mantan Presiden Republik Indonesia). Selain Bapak SBY, di warung ini juga banyak terpajang foto orang terkenal dan artis yang pernah makan di sini. Waktu itu saya memesan 1 porsi kupat tahu, 1 gelas es teh manis dan 1 bungkus kerupuk dengan total harga 20K. Rasanya enak, harganya terjangkau dan porsinya sangat mengenyangkan bagi saya yang tidak terbiasa sarapan berat.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah itu, barulah saya memesan ojek online untuk kembali ke Mall Grand Artos. Waktu saat itu menunjukkan jam 10:30 WIB. Walaupun ramai yang mengambil race pack, tetapi karena terkoordinasi dengan rapi dan panitia juga kerjanya cepat, maka sebelum jam 11.00 WIB race pack sudah berada ditangan saya. Kemudian saya memesan ojek online lagi menuju Hotel Wisata. Dari sini saya membeli tiket bus damri seharga 50K lagi untuk kembali ke Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Busnya berangkat jam 11:00 WIB dan sampai di tujuan sebelum jam 14:00 WIB. Memakan waktu hampir 3 jam, karena jalanan lumayan macet siang itu.

This slideshow requires JavaScript.

Begitulah cerita singkat saya di Kota Magelang. Secara keseluruhan dan sepintas Kota Magelang tidak macet dan cukup berkembang. Transportasi juga mudah di sini, karena sudah ada ojek online. Orangnya juga ramah-ramah, yang saya ambil kesimpulan dari berbicara dengan supir ojek online dan koko-koko yang berada di kelenteng. Semoga suatu saat saya dapat berada lebih lama di kota ini.

 

Kesialan, Kebodohan dan Pelajaran Berharga di Perjalanan Kali Ini

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, saya membuka aplikasi Airy dan melihat pesanan penginapan saya tidak ada dilist pesanan. Lalu saya mencoba searching tempat penginapan tersebut di aplikasi. Eh tidak ada! Ada apa ini? Bahkan seluruh tempat penginapan Airy yang dekat dengan tempat yang saya pesan sebelumnya sama sekali tidak ada. Kemudian entah apa gerangan saya membuka list transaksi kartu kredit saya di aplikasi Mandiri Online. Eh ada dana +Rp. 4xx.xxx seharga Airy yang saya bayar kemaren. Ada apa ini? Kok ada dana masuk di kartu kredit? Apa di refund? Singkat cerita karena panik saya memesan tempat penginapan lain di aplikasi Traveloka selama 3 malam.

Setelah kesal, karena mengira pesanan saya dibatalkan secara sepihak. Akhirnya, mau tak mau setelah sampai di Bandara Adisudjipto saya langsung memesan ojek online menuju tempat penginapan yang baru saya pesan, dengan harga sebelas duabelas dari pemesanan sebelumnya yang dibatalkan. Ternyata tempatnya kurang memuaskan, kecoak tidak malu-malu menunjukkan dirinya di sini. Selain itu, minuman minute maid yang saya tinggalkan sebentar saja sudah bersemut. Grr, kesal dan pasrah ne.

Karena itu setelah mandi, saya langsung keluar menuju Plaza Ambararrukmo. Di sana dengan cepat saya sudah merasa bosan dan memutuskan kembali ke penginapan. Waktu itu hampir sore dan perut saya sudah kelaparan. Kemudian sayapun memesan makanan lewat aplikasi Go-Food.

Selagi menunggu pesanan diantar, tiba-tiba saya dapat email notifikasi dari Airy yang menanyakan gimana dengan pesanan saya hari ini?  Loh bukannya udah batal? Kemudian saya langsung saja menelpon ke nomor support mereka. Eh ternyata pesanannya tidak dibatalkan, hanya saja kemaren saya memesan tanpa login sebagai user. Jadinya informasi pesanan hanya ada di email. Duh! kenapalah saya begitu bodoh. Tanda plus(+) di transaksi kartu kredit itu maksudnya saya berhasil membayar, bukan uang refund. Kacau deh, tekor bandar.

Setelah itu, sayapun langsung berkemas untuk pindah ke tempat penginapan di Airy saja, harusnya sih tempatnya lebih nyaman. Eh tapi harus tunggu pesanan Go-Food saya! Yah sudahlah kemas dulu, sambil check out duluan. Pas check out, saya menceritakan kejadian ini kepada abang kasirnya. Eh orangnya bengong aja dan bersikap biasa alias ga peduli. Dalam hati mungkin dia bilang “Bukan urusan gua kali lu sial. Lagian peduli amat gua!”. Yah sudahlah, intinya saya bilang ke abangnya, kalau saya tidak balik malam ini, jangan abang merindukan saya. Eh? Maksud saya berarti silahkan kamarnya disewakan saja ke yang lain :D. Kamarnya masih utuh sih, cuma terpakai handuk dan sabun doank :p.

Tidak lama kemudian, abang-abang yang mengantar Go-Food pun tiba. Setelah itu, barulah saya memesan Gojek menuju tempat penginapan di Airy. Eh taunya dapat driver abang yang antar makanan tadi. Dunia emang kecil bang, jodoh kali kita bang, jodoh antara konsumen dan pengemudi. Saya sempat menceritakan kesialan saya ke abang Gojeknya, abangnya yang ini sama kayak petugas kasir sebelumnya. Acuh tak acuh saja, kasih tanggapan saja kagak. Budeg kali ya? yah sudahlah, ane mah pasrah aja, makan hati sendiri saja :D.

Sekitar jam 5an sore, akhirnya saya sampai juga di tempat penginapan Airy. Tempatnya lebih luas dan bersih, hanya saja tidak ada selimut. Yah gapapalah pikir saya, udah malas komplain, pengennya segera baring dan tidur saja. Capek sama semua kejadian ini. Setelah kemaren ketinggalan kereta dan harus membeli tiket pewasat H-1 dengan harga mahal, eh hari ini malah memesan penginapan yang tidak diperlukan, untuk 3 hari lagi. Duh banyak kali biaya tak terduga, karena kebodohan sendiri. Apes memang, tekor bandar.

Yah, kalau dipikir-pikir mungkin ini memang sudah rencana yang di atas. Karma baik dan buruk saya berbuah pada waktu bersamaan. Tidak sia-sia saya berdoa di kelenteng sebelumnya. Jika uangnya tidak dihabiskan untuk membeli tiket pesawat dan penginapan, mungkin uangnya sudah saya gunakan untuk hal yang tidak-tidak. Well, everything went wrong for the right reasons. Dari pengalaman ini saya juga belajar untuk tidak mengambil keputusan terlalu cepat. Ambil nafas, tenangkan pikiran, cerna, baru ambil keputusan.

Everything went wrong for the right reasons

Masfran Zhuo

Leave a Reply