Candi Prambanan
Financial,Run,Travel

Road to Borobudur Marathon: Paska Lari di Prambanan

Minggu kemaren tanggal 18 November 2018, saya finish lomba lari kategori half marathon dengan catatan waktu 3:32:12 pada event Borobudur Marathon di Magelang, Jawa Tengah. Melelahkan memang sehabis lari, tetapi kali ini untungnya saya sudah latihan beberapa bulan sebelum event dimulai. Walaupun masih jauh dari porsi latihan yang saya harapkan. Yah, setidaknya kaki ini sudah terbiasa untuk bersakit-sakitan. Pas bangun tidur keesokan harinya, kaki ini tidak merasakan pegal-pegal yang luar biasa. Berbeda dengan lomba lari tahun sebelumnya, dimana hanya bermodal nekat tanpa latihan berarti.

Rencananya pagi ini saya akan ke Candi Prambanan. Dari penginapan saya naik ojek online menuju ke Bandara Adisutjipto. Di bandara saya menuju ke halte Trans Jogja dan memilih rute bus 1A menuju halte Prambanan. Pembayaran bisa memakai e-Money atau tunai. Kalau tidak salah lihat, tertera harga Rp. 1.500 waktu saya melakukan pembayaran dengan e-Money.

Perjalanan ke halte Prambanan memakan waktu lebih kurang setengah jam. Dari sana lanjut naik ojek pangkalan seharga Rp. 10.000 menuju komplek Candi Prambanan. Sebenarnya komplek Candi Prambanan tidak terlalu jauh dari halte. Jaraknya sekitar 1KM lebih, kalau jalan kaki sih masih terjangkaulah, tetapi karena hari sebelumnya sudah ikut HM dan sinar matahari yang terik pagi itu, maka saat turun dari halte dan ditawari ojek pangkalan, saya langsung iyakan setelah cocok dengan harga yang ditawarkan.

Setelah diantarkan sampai pintu masuk, saya lanjut jalan kaki sampai loket pembelian tiket. Antriannya tidak begitu panjang, ada sekitar belasan orang yang mengantri, hanya saja proses pembelian 1 orang saja lumayan lama, mungkin karena belinya borongan ya, soalnya yang tidak antri sangat ramai waktu itu.

Kemudian pandangan saya tertuju pada konter paling ujung yang sepi. Hanya ada satu orang yang membeli tiket di sana. Di konter tersebut tertulis hanya menerima debit/kartu kredit Visa dan Mastercard. Kemudian saya teringat membawa kartu sakti dalam perjalanan kali ini, apalagi kalau bukan Jenius. Akhirnya saya meninggalkan antrian dan membeli tiket di konter tersebut. Cara pembeliannya mudah, cukup berikan kartu Jenius pada kasirnya, maka dia akan memasukkan kartu Jenius kita ke mesin EDC. Nah, sekarang kita tinggalkan masukkan pin kartu Jenius kita. Selesai dah tiket saya dicetak, tanpa perlu mengantri lama di konter sebelah.

This slideshow requires JavaScript.

Oh ya, kalau dipikir kembali, ini bukan kali pertama saya memakai Jenius dalam perjalanan kali ini. Bahkan saat melakukan pendaftaran untuk event Borobudur Marathon saya sudah memakai kartu Jenius. Bagaimana tidak, pembayaran pendaftaran harus dilakukan ke Bank Jateng yang tidak saya miliki. Untuk menghemat biaya transfer antar bank, maka sayapun membayar biaya pendaftaran Borobudur Marathon seharga Rp. 350.000 ini dengan Jenius. Lumayankan dapat hemat biaya transfer antar bank. Tidak lupa juga saat memerlukan uang tunai setelah selesai berlari, saya menarik uang di ATM Bank Jateng dengan kartu Jenius dan sekali lagi tanpa biaya. Memang serba guna Jenius dalam perjalanan saya kali ini. Makanya kalian jangan lupa untuk memakai Jenius juga dalam perjalanannya #Jalan2Jenius. Satu lagi bagi kalian yang tertarik dengan topik layanan financial bisa kunjungi situs Co.Create di www.cocreate.id.

This slideshow requires JavaScript.

Lanjut kembali ke cerita perjalanan di Prambanan. Setelah mendapat tiket, maka sayapun masuk ke komplek Candi Prambanan. Dari kejauhan Candi Prambanan sudah tampak kelihatan megah. Sayapun kemudian berjalan menuju ke Candi Prambanan. Bagi Anda yang belum tahu, Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia.

Saat berada di Candi Prambanan, ada satu kejadian lucu dan menggelitik. Saya yang saat itu sedang mengambil foto Candi Prambanan, didatangi segerombolan anak SMA laki-laki. Kemudian salah satu dari mereka berbicara bahasa Inggris dengan saya, kira-kira bunyinya seperti ini “Could I take picture with you sir?”. Kejadiannya berlangsung begitu cepat saat saya bilang Okay. Jadilah beberapa orang dari mereka sudah berdiri di samping kiri dan kanan saya. Sedangkan temannya satu orang yang bertugas mengambil foto. Jepret! selesailah kami berfoto bersama. Kemudian ucapan Thank you Sir! pun terucap dari mulut mereka. Mau saya balas dengan kata “sama-sama”, takut mengecewakan mereka, maka saya pun membalas dengan ucapan thank you juga :D.

Pengen ketawa rasanya saat itu, karena dikira turis asing. Mungkin mereka mengira saya turis asing dari Jepang, Korea atau China kali ya. Secara ras mongoloid saya sangat kentara, hahaha. Selain itu, mungkin karena saya juga sendirian saat itu, maka dipikir tidak mungkin ini warga negara Indonesia. Kalian tahulah orang Indonesia, paling tidak bisa menerima kalau ada orang yang melakukan suatu aktivitas sendirian, seperti makan, nonton atau jalan-jalan sendiri. Kebanyakan pasti akan dicap aneh atau dijuluki ansos alias anti sosial. Padahal itu hal yang wajar dilakukan bagi seorang introvert seperti saya.

Setelah Candi Prambanan, sayapun melanjutkan menyewa sepeda menuju tiga candi lain yang berada di sini. Pertama Candi Lumbung, kemudian Candi Bubrah dan yang terakhir Candi Sewu. Di antara ketiga candi ini, Candi Sewu lah yang paling menarik perhatian saya. Candi Sewu merupakan candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur di Jawa Tengah. Saya tidak tahu kenapa, banyak bongkahan batu di sekitar Candi Sewu. Terlihat juga beberapa orang pekerja sedang bekerja di sini. Oh ternyata setelah cari tahu di Google, Candi Sewu pernah rusak parah saat terjadi gempa tahun 2006, sehingga saat ini terus dipugar.

Keadaan Candi Sewu memang sepi saat itu, hanya terlihat beberapa orang pekerja jauh di sudut candi utama. Selain itu para wisatawan pun dapat dihitung dalam jumlah jari. Saya berhenti sebentar dan duduk menikmati suasana hening di Candi Sewu. Saya bahkan sempat mengambil foto kaki serta sepatu sendiri dan berniat untuk memposting di Instagram dengan hashtag #postrun, tetapi niat itu akhirnya saya urungkan. Alhasil, saya lebih memilih menghabiskan waktu sekitar 5-10 menit disini tanpa melakukan apa-apa, hening dan berada disuasana saat itu. It is one of the best feelling in this world and as introvert I need and love it.

Oh ya, bagi Anda yang kehausan, di tempat parkir sepeda sebelum masuk ke Candi Sewu ada bapak-bapak yang menjual minuman dingin. Saya menyempatkan diri membeli minuman di sini sebelum masuk ke Candi Sewu. Setelah selesai dari Candi Sewu, sayapun menemukan salah satu wisatawan wanita yang menikmati kesendirian sambil mengambil foto. Inilah kesempatan emas pikir saya saat itu. Tanpa perasaan ragu, sayapun mendatangi wanita tersebut dengan bersepeda. Apalagi kalau bukan mengutarakan niat saya “Mbak, bisa tolong ambilkan foto saya” sambil menyerahkan HP ke mbaknya. Kapan lagi kan, masa dari tadi tidak ada foto diri sendiri dengan objek wisatanya, No Pic Hoax kata orang. Yah sebagai kenang-kenangan, bahwa saya pernah menjejakkan kaki di sini. Makasih ya Mbak :D.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah itu, sayapun bersepeda kembali ke titik awal tempat menyewa sepeda. Oh ya, biaya sewa sepeda adalah Rp. 10.000 per setengah jam kata bapaknya waktu itu, tetapi saya tetap dikenakan biaya Rp. 10.000 walaupun melewati batas waktu yang ditetapkan. Bagi yang datang berdua, Anda bisa menyewa sepeda seat double seharga Rp. 20.000.

Kemudian, sayapun menuju pintu keluar komplek Prambanan. Eh, tapi ternyata sebelum pintu keluar terdapat museum yang bisa kita nikmati secara gratis. Sayapun masuk dan sempat memfoto beberapa peninggalan bersejarah di museum. Kalau ingin melihat semuanya, silahkan datang sendiri ke Prambanan ya :D.

Setelah keluar dari Komplek Prambanan, saya sempat membeli mainan sebagai oleh-oleh untuk keponakan saya yang berumur 1 tahun lebih. Kemudian baru menuju halte Prambanan dengan becak sepeda seharga Rp. 10.000. Dari halte saya naik bus Trans Jogja rute 1A menuju Malioboro, tetapi saya berhenti di halte terdekat dengan penginapan, baru kemudian dilanjutkan dengan memesan ojek online menuju penginapan.

This slideshow requires JavaScript.

Ini merupakan perjalanan kedua saya saat ikut lomba lari sambil jalan-jalan. Tahun sebelumnya saya ikut event Halong Bay Heritage Marathon dan menikmati jalan-jalan di Halong, Vietnam sebelum dan sesudah lari. Tahun ini saya ditemani dan dimudahkan oleh #Jalan2Jenius dengan mengikuti event Borobudur Marathon dan berwisata di Magelang dan Yogyakarta. Harapan saya untuk tahun berikutnya adalah agar dapat mengikuti event lomba lari dan jalan-jalan menikmati tempat wisatanya lagi. So, keep running and keep traveling.

Leave a Reply