Saat Berada di Pura Luhur Uluwatu
Travel

Dadakan! Tanpa Rencana Matang ke Bali – Part 2

Postingan ini adalah sambungan dari postingan cerita perjalanan kami di Bali bagian ke-2, kalau masih belum ingat berikut link cerita bagian pertama. Pada akhir cerita bagian pertama, saya baru tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali dan janjian bertemu dengan teman saya, Inan, di Pantai Kuta.

 

Pantai Kuta

Saya tiba di Pantai Kuta terlebih dahulu. Sambil menunggu, saya membeli sebotol air dan dan mengitari pesisir Pantai Kuta. Waktu itu masih pagi, jadi suasana di Pantai Kuta tidak begitu ramai. Tidak beberapa lama kemudian, teman saya, Inan menelpon dan mengabari dia sudah tiba. Saya lupa sudah berapa lama kami tidak bertemu, mungkin 2 atau 3 tahun. Hal pertama yang kami lakukan adalah tertawa tentang kejadian delay pesawat tentunya :D.

Sambil berjalan di Pantai Kuta, kami mencari sepeda motor untuk disewa. Ada beberapa tempat sewa motor yang kami tanyakan, tetapi harganya tidak cocok dengan budget kami yang pas-pasan ini. Akhirnya Inan mencari lewat Google dan mendapat harga sewa motor dengan biaya 60K/hari. Setelah menelpon mereka, kamipun memutuskan untuk menerima serah terima motornya di 7-Eleven yang terpampang di depan kami, sekaligus sambil sarapan pop mie di sana. Pop mie saja tidak cukup bagi saya, saat ada bli yang lewat menjajakan nasi bali, maka saya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk mencoba kuliner Bali. Nasi bali seharga 5K porsinya lumayan banyak, apalagi sebelumnya perut ini sudah diganjal dengan segelas pop mie.

Sementara itu, sambil menunggu saya belajar teknik mengambil foto dengan kamera DSLR milik Inan. Selain itu, saya juga baru tahu maksud panggilan bli di Bali. Hal ini saya ketahui setelah menanyakan kepada Inan, karena dari tadi saat berkomunikasi dengan masyarakat Bali, dia selalu mengucapkan kata bli kepada mereka. Ternyata bli bisa digunakan sebagai panggilan bang di kampung halaman kami, ataupun panggilan mas di daerah Jawa.

Oh ya, sambil menunggu, kami baru memikirkan tempat wisata yang akan kami kunjungi di Bali, karena tempat wisata yang kami rencanakan hanya Nusa Penida. Setelah mencari-cari di Google, ada 2 pilihan tempat wisata yang dekat dalam jangkauan, yaitu Nusa Dua atau Pura Luhur Uluwatu. Kemudian, kamipun memutuskan untuk ke Nusa Dua terlebih dahulu, karena jaraknya lebih dekat.

Tidak berapa lama kemudian, bli yang mengantarkan motor pun tiba. Tanpa ada proses yang ribet, seperti menunjukkan identitas melalui KTP, kunci motor dengan mudah diberikan, bahkan tidak ada kenalan kayaknya!. Karena bahan bakar yang menipis bli tersebut mengantar kami sampai ketemu tempat pengisian bahan bakar, baru kemudian meninggalkan kami untuk menggunakan motor tersebut.

 

Nusa Dua

Setelah mengisi bahan bakar, kami langsung tancap gas ke Nusa Dua, tentu saja dengan bantuan Google Maps. Kami memulai perjalanan ini sekitar jam 11:00 WITA. Keadaan jalan raya di Bali sepi-sepi saja waktu itu, tapi ya ini perspektif sih. Selain itu kondisi jalan juga bagus, didukung oleh cuaca cerah dengan sinar matahari yang tidak begitu terik.

Kemudian, dalam waktu kurang lebih setengah jam, kamipun sudah tiba di Nusa Dua. Sebelum menuju ke Pantai Nusa Dua, kami memasuki komplek villa yang mewah dan asri. Sesuai tujuan, setelah memarkirkan motor, kamipun langsung menuju ke Pantai yang berada di sini. Di Pantai Nusa Dua, kita dapat melihat hamparan pasir putih di sepanjang pesisir pantai dan laut biru yang terbentang luas. Keadaan saat itu tidak terlalu ramai atau mungkin juga karena pesisir pantai di sini terbentang luas dan memanjang, jadi pantai terasa milik pribadi. Bagi yang mau selfie tanpa background orang lain cocok ne :D.

Biaya untuk masuk ke Nusa Dua tidak ada, kecuali biaya parkir kendaraan. Oh ya, awalnya kami bingung dengan sistem parkir di sini, karena saat masuk ada gerbang parkir, tapi plangnya sudah terangkat. Kebetulan saat itu ada motor yang keluar dari sana begitu saja, jadi kamipun masuk juga begitu saja :D. Saat akan meninggalkan tempat parkiran, ternyata ada pos satpam di tempat keluar. Kami sudah was-was, tadi sebelumnya masuk tanpa tiket parkir. Tapi ternyata bukan sebuah masalah besar, saat di sana teman saya langsung menjelaskan hal tadi dan menanyakan harga bayar parkirnya. Kalau tidak salah kami dikenakan biaya Rp. 2000 atau Rp. 5000, saya sudah lupa. Intinya kami aman-aman saja, pas dijelaskan pun bapak satpamnya senyum-senyum saja dan sampai saat ini kami tidak tahu, apa sebenarnya ada sistem tiket parkir atau tidak di sana, yang penting tidak ada masalah dan kami pun bisa pergi dengan aman :D.

 

Pantai Pandawa

Setelah itu kami berencana melanjutkan perjalanan ke Pura Uluwatu, tetapi kemudian teralihkan oleh plang nama yang bertuliskan Pantai Pandawa. Inan yang saat itu berada di belakang jok motor yang saya kendarai langsung mengusulkan untuk mengunjungi Pantai Pandawa.

Menariknya, jalan menuju Pantai Pandawa melalui tepi tebing yang sangat memukau pemandangan. Dengan arah jalan yang melingkar, siapa sangka ada sebuah pantai tersembunyi dan indah di sini. Oh ya, sebelum masuk ke jalan ini, kita harus melewati gate yang dipungut biaya, harganya jangan ditanya, sudah lupa akibat keindahan pemandangan di sini, hahaha.

Sebelum sampai di pantainya, kami berhenti dulu di sebuah bangunan di pinggir tebing. Di sini banyak juga orang yang berhenti untuk mengambil foto. Objek yang menarik adalah logo Pantai Pandawa yang berada di pinggir tebing. Selain itu, kita bisa masuk dan naik ke atas bangunan tersebut. Di sini lagi-lagi terdapat logo nama Pantai Pandawa. Di depan pandangan tempat ini, terlihat Pantai Pandawa dari bawah tebing. Di kanan dan kiri pandangan, terlihat ada paralayang di udara. Sedangkan di belakang, merupakan lokasi logo Pantai Pandawa yang berada pas di bawah puncak tebing dan terlihat juga beberapa ekor monyet di ujung tebing sana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke bawah tebing menuju Pantai Pandawa. Untuk masuk ke pantai dan memarkirkan motor, dikenakan biaya parkir sekitar Rp. 2000. Ternyata Pantai Pandawa sangat penuh dengan wisatawan. Warung-warung yang berjualan juga penuh di sepanjang pantai. Yang menarik perhatian saya adalah sebuah bangunan mercusuar berwarna kuning yang berada di pinggir pantai. Saya menyempatkan diri untuk berfoto dengan mercusuar tersebut. Setelah keliling sebentar dan menikmati suasana Pantai Pandawa, kamipun siap-siap menuju Pura Uluwatu.

 

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK)

Dalam perjalanan ini, lagi-lagi kami terdistrak lagi, kali ini oleh patung GWK yang tampak dalam pandangan. Dengan bermodal Google Maps, kamipun menelusuri jalan ke arah patung GWK. Kami melewati jalan sempit dan agak rusak menerjal turun, kemudian sampai di jalan tanah yang belum selesai di kerjakan. Di sini kami hanya berfoto sebentar dengan patung GWK yang belum selesai tersebut.  Jika selesai, maka patung dengan tinggi 75 meter dan lebar 65 meter ini akan menjadi patung yang terbesar di Asia dan lebih tinggi dari patung Liberty di Amerika.

Info terbaru, pada tanggal 22 September 2018 Patung GWK diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Jadi teman-teman sekarang sudah bisa melihat patung GWK yang sudah selesai dibangun dan menjadi kebanggan masyarakat Bali dan Indonesia tentunya.

 

Pura Luhur Uluwatu

Setelah terdistrak 2 kali, akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke Uluwatu lagi. Cuaca cerah dengan terik matahari yang tidak begitu panas, sangat mendukung perjalanan kami memakai motor kali ini. Perjalanan ke Pura Uluwatu dari destinasi terakhir kami tidak memakan waktu sampai 30 menit. Di sepanjang perjalanan, masih banyak plang yang bertuliskan arah ke pantai xxx, tapi kali ini kami kokoh untuk menuju ke Pura Uluwatu.

Akhirnya kamipun sampai juga di Pura Uluwatu. Pura Uluwatu atau biasa disebut Pura Luhur Uluwatu terletak di atas batu karang dengan ketinggian 97 meter dari permukaan laut. Pura ini merupakan salah satu tempat ibadah umat Hindu yang sekaligus dijadikan sebagai objek wisata.

Kita diharuskan membayar tiket untuk masuk ke dalam lokasi Pura ini.  Setelah itu silahkan memakai kain berwarna kuning emas atau ungu untuk diikatkan pada pinggang. Kebetulan saat itu, kami memakai keduanya :D. Oh ya, sebelumnya ada peringatan juga agar berhati-hati bagi yang membawa kamera maupun topi, karena bisa-bisa diambil monyet yang berada di sana. Wah, ngeri juga kayaknya, tetapi untungnya tidak ada pertumpahan darah antara kami dan pengunjung lainnya dengan monyet hari itu.

Wow! bisa dikatakan Pura Luhur Uluwatu adalah tempat terkeren yang kami kunjungi hari ini. Pemandangan yang membuat saya takjub adalah melihat hempasan ombak di tepi batu karang Pura Uluwatu. Tidak hanya itu, suara hempasan ombak terdengar dengan jelas. Belum lagi hembusan angin segar di atas puncak karang tempat berdirinya Pura Luhur Uluwatu ini. Selain itu, di sekitar Pura Luhur Uluwatu sangat adem, karena dipenuhi pepohonan dan angin laut yang segar, walaupun dengan cuaca yang sangat cerah hari itu. Kayaknya tempat ini cocok untuk dijadikan tempat wisata bersama keluarga besar.

Pura Luhur Uluwatu merupakan tempat wisata terakhir yang kami kunjungi hari itu. Setelah itu kamipun balik ke kota Kuta, dengan sebelumnya memesan penginapan dengan aplikasi Airy Indonesia yang ceritanya dapat Anda baca di sini.

 

Selamat Tinggal Bali

Setelah check-in di penginapan, kamipun beristirahat dan makan siang terlebih dahulu, walaupun sebenarnya sudah sore. Malamnya kami keluar lagi, kali ini dengan teman kuliah Inan waktu menyelesaikan S1 di Yogyakarta. Temannya Inan yang bernama Didik bekerja di Bali saat ini. Dengan memakai 2 motor, kamipun berangkat ke Cangur, karena tidak ada apa-apa di sana, kamipun akhirnya ke Jimbaran, lagi-lagi dengan hasil nihil mencari tempat menghabiskan malam. Ujung-ujungnya kami memutuskan makan malam dekat kosan nya Didik, yaitu Dewi Sri Lestari Foodcourt. Setelah itu kamipun berpisah dan kembali ke penginapan untuk istirahat.

Besok paginya saya dan Inan melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida melalui pelabuhan Sanur, untuk ceritanya akan saya tulis pada postingan yang berbeda.

Setelah pulang dari Nusa Penida dan tiba di Pelabuhan Sanur pada sore hari, kamipun kembali ke penginapan untuk mandi dan kemudian melanjutkan keluar makan malam. Setelah itu, motor sewaan kami diambil kembali oleh penyewa di penginapan. Oh ya, lucunya penyewa motor menelpon kami malam sebelumnya. Hal yang ditanyakan adalah nama orang yang menyewa motor dia. Padahal kemaren pas penyerahan motor bisa ditanyakan atau melihat KTP, tetapi mungkin sudah budaya di sini, mereka percaya saja atau sudah terbiasa dengan hal begini, makanya ini tidak menjadi masalah besar bagi mereka.

Sebelumnya, saya dan Inan sudah menghitung biaya pengeluaran kami selama di Bali dan tentunya biaya-biaya tersebut kami tanggung berdua. Sekitar jam 21:00 WITA lewat, sayapun berpisah dengan Inan, karena penerbangan saya meninggalkan Bali pada jam 11:00 WITA. Saya menuju bandara dengan memesan ojek online, dari sini saya melanjutkan perjalanan meninggalkan Bali ke Jakarta. Sedangkan Inan akan melanjutkan perjalanannya ke Lombok, NTB keesokan harinya.

 

Ada Yang Tahu Kenapa Harus Bali?

Dalam perjalanan pertama kali ke Bali, akhirnya saya tahu kenapa Bali menjadi tempat wisata popular bagi masyarakat dalam maupun luar negeri. Mulai dari transportasi misalnya, kita dapat dengan mudahnya menyewa motor tanpa menunjukan KTP sama sekali. Kemudian, kunci motor yang ditinggal begitu saja di tempat parkir oleh penyewa motor. Dari sini kita bisa melihat adanya kepercayaan dan keterus-terangan masyarakat Bali.

Kemudian, mudahnya akses ke pelbagai tempat wisata di Bali. Bayangkan, dalam 1 hari saja kami bisa mengunjungi 5 tempat wisata di sini. Tempat wisatanya mudah dijangkau, jalan-jalan juga bagus dan tentunya masyarakat yang tanpa pamrih menunjukkan arah ke tempat wisata yang berada disana. Seperti yang kami alami saat berhenti sebentar mengisi bahan bakar dalam perjalanan ke Uluwatu. Walaupun sudah tahu arah berbekal Google Maps, tetapi saat mengisi bahan bakar, ibu tersebut menanyakan arah tujuan kami dan dengan senyum ramahnya menjelaskan arah dan berapa lama waktu yang perlu kami tempuh untuk menuju ke Pura Luhur Uluwatu.

Satu hal lagi tentang akomodasi, penginapan di Bali juga dapat dengan mudah kita cari, baik melalui aplikasi online maupun tidak. Akomodasi di Bali juga dekat dengan tempat-tempat wisata yang berada di sana. Bayangkan, di setiap tempat wisata ada penginapan maupun villa yang berada tidak jauh dari sana. Selain itu, dengan harga yang terjangkau, tentunya sangat mendukung pelbagai lapisan masyarakat untuk menggunakan jasa mereka.

Mungkin kalian pernah mendengar komplain tentang tempat wisata Indonesia yang lebih wah dan keren dari Bali, tetapi kenapa masih tidak setenar dan popular Bali sih? Well, iya mungkin tempat wisata tersebut memang lebih bagus, keren dan sudah di promo habis-habisan di media, tetapi masih yah you know lah. Ternyata tidak cukup hanya dengan promosi yah teman-teman. Masih banyak hal yang harus kita lakukan. Mulai dari mudah tidaknya akses ke tempat wisata tersebut bagi turis asing. Oh iya, yang lokal dululah, kadang kita saja masih susah untuk akses ke sana. Bisa sih, tetapi perlu effort dan biaya lebih yang tentunya bisa mengurungkan niat kita sebagai wisatawan. Kemudian kerja sama antar seluruh masyarakat yang berada di sana, dengan menyediakan akomodasi yang memadai, kenyamanan, informasi rute, kejujuran dan keterus-terangan dalam transaksi.

Jadi, saya yakin semua tempat wisata di Indonesia bisa menjadi salah satu tempat wisata yang popular seperti di Bali. Mari kita sama-sama berusaha dalam hal ini. Bagikan pengalaman kalian saat mengunjungi tempat wisata tersebut. Jangan cuma post dan upload gambar di media sosial, tetapi share juga cerita bagaimana kalian bisa ke sana, Caranya gimana? Kendalanya apa? agar yang lain tahu apa yang perlu disiapkan sebelum ke sana.

Kita juga tidak perlu membanding-bandingkan tempat wisata daerah mana yang lebih bagus. Semuanya bagus dan punya ciri khas dan unik masing-masing daerah, baik dari segi geografis, kultur masyarakatnya, kuliner, kontruksi bangunan, dan hal-hal lainnya. Intinya adalah Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagamannya. Jangan jadikan hal ini sebagai jurang pemisah antar kita, tetapi keberagamanlah yang mempersatukan kita.

Leave a Reply