Bakcang ketan dan beras di Chinatown, Glodok, Jakarta Barat
Food,Travel

Hunting Bakcang di Chinatown, Glodok

Setiap tanggal 5 bulan 5 kalendar lunar China atau antara bulan Mei-Juni masyarakat Tionghoa merayakan hari Duanwu dengan membuat Bakcang. Biasanya setiap tahun saya pasti mendapat Bakcang baik yang dibuat oleh orang tua maupun dari saudara, tetapi karena tahun ini sudah merantau ke Jakarta dan jauh dari mereka, maka untuk kali ini saya tidak mendapat jatah Bakcang. Bagaimana ini? Padahal lagi ingin mencicipi makanan yang satu ini.

Salah satu tempat yang terpikir pertama kali dalam kepala saya untuk hunting Bakcang adalah di Glodok. Glodok merupakan salah satu daerah di bagian Jakarta Barat. Glodok juga dikenal sebagai Pecinan atau Chinatown Jakarta. Jadi tidak salah dong, untuk berburu Bakcang yang merupakan makanan orang Tionghoa di daerah ini.

Rencananya saya akan pergi ke Glodok pagi-pagi untuk mencari Bakcang di sana pada hari Minggu, sekaligus sarapan pagi di sana, tapi apa daya, kemaren malam saya tidur sekitar pukul 3 pagi dan alhasil saya bangun sekitar jam 11 keesokan harinya. Telat bangun tidak menghilangkan niat saya untuk mencari Bakcang, maka perjalanan mencari Bakcang tetap dilakukan pada siang harinya.

Setelah selesai mandi dan gosok gigi, sayapun mengganjal perut dengan sepotong roti. Lumayan sebagai sarapan sekaligus makan siang sementara saat itu. Sebelum jam 12 siang saya memesan Grab untuk pergi ke Mall Taman Anggrek terlebih dahulu. Di sana saya mencari card holder di Gramedia, tetapi tidak ketemu model yang  diinginkan. Kemudian saya melanjutkan mencari di Gramedia Mall Central Park, tetapi model yang dicari tetap tidak ada juga. Karena itu, saya langsung melanjutkan saja  perjalanan mencari Bakcang dari halte Podomoro City. Di sini saya sempat salah naik rute bus Transjakarta, sehingga menghabiskan waktu keliling Jakarta sebentar.

Walaupun tersesat, pada akhirnya saya sampai juga di halte Glodok. Dari halte saya berjalan kaki menuju Pasar Glodok Chinatown. Ini merupakan kali kedua saya datang ke Glodok. Pada trip pertama saya datang iseng-iseng tanpa tujuan, karena ingin mencoba rute Transjakarta. Di trip pertama, saya langsung menuju ke sisi kiri Pasar Glodok menuju Jalan Pancoran, sehingga pada trip kali ini saya mencoba menyeberangi jalan dan menuju sisi kanan Pasar Glodok.

Tidak banyak yang saya temukan di sini, hanya toko-toko yang menjual VCD bajakan. Beberapa penjual menawari barang dagangan mereka. Pas di ujung jalan saat berbelok kesebelah kiri, terdapat sebuah tempat makan Nasi Padang. Tanpa pikir panjang, akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di sana. Tidak salah memang saya menjatuhkan pilihan untuk makan siang Nasi Padang di sini. Nasi Padang di sini lebih berasa seperti Nasi Padang yang biasa saya makan di Pekanbaru. Dengan lauk telur bulat sambal merah, ditemani kuah gulai sayur nangka, kol, kacang panjang dan tidak lupa cabe hijaunya serta segelas es teh manis, ini merupakan salah satu makan siang ternikmat yang pernah saya makan di Jakarta. Tempat makan Nasi Padang is the best lah for me. Ga tau juga ini karena pengaruh lapar atau memang karena enak :D.

Setelah makan siang, saya kembali fokus ke tujuan utama perjalanan kali ini, yaitu mencari Bakcang. Saya menelusuri kembali jalan yang dilalui sampai kembali ke Pasar Glodok menuju Jalan Pancoran. Tepat saat saya keluar dari Pasar Glodok, sudah terlihat Ci Ci yang menjajakan Bakcang di stannya. Oh ya, sebelumnya saya tahu Ci Ci tersebut berjualan di sana berbekal video dari Youtube. Lokasi, stan dan orang yang berjualan persis seperti  yang terlihat pada video di Youtube, hanya saja harganya berbeda yaitu 20K, sedangkan pas saya beli sudah seharga 30K. Ga tau deh itu video uploadan tahun berapa. Waktu itu saya membeli 2 buah Bakcang ayam dengan bahan dasar masing-masing ketan dan nasi.

Porsi Bakcangnya tidak diragukan lagi, 1 buah Bakcang cukup sebagai makan malam saya. Malamnya saya makan Bakcang ayam yang terbuat dari beras sebagai makan malam. Isinya ada daging ayam, kuning telur asin dan jamur. Ini berbeda sekali dengan buatan mama saya. Tentu saja buatan mama saya lebih enak dan penuh dengan beragam bahan lain seperti udang ebi, biji pinang, jamur, daging, dan rempah lainnya yang saya tidak familiar (Tidak tahu sebenarnya :D). Walaupun begitu, setidaknya Bakcang ini dapat mengobati rasa rindu saya akan Bakcang buatan mama.

Oh ya, selain Bakcang, saya juga mencoba es potong rasa durian seharga 5K, yang saya habiskan selagi keliling di Jalan Pancoran, Glodok. Kemudian saya juga melanjutkan makan sepotong buah semangka seharga 5K, karena kekenyangan saya tidak menghabiskan buah semangka tersebut.

Perjalanan diakhiri dengan berjalan kaki dari Jalan Pancoran menuju halte stasiun kota. Sengaja saya memilih rute yang melewati Kota Tua, walaupun tidak singgah di sana. Menjelang sore, jalanan di sana sudah penuh dengan kendaraan dan para pejalan kaki yang menuju Kota Tua. Setelah sampai halte, sayapun melanjutkan perjalanan pulang dengan membawa 2 buah Bakcang yang akan saya nikmati di kosan :D.

Leave a Reply