Alor Street, Bukit Bintang
Food,Travel

Satu Hari di Bukit Bintang, Kuala Lumpur

Satu hari di Kuala Lumpur? Hmm… bisa apa aja ya? Kalau Anda seorang penikmat kuliner, maka Anda bisa datang ke Bukit bintang. Di Bukit Bintang terdapat Alor Street yang merupakan pusat kuliner terkenal di Kuala Lumpur. Di Alor Street Anda bisa menemukan beragam jenis makanan dari Asia seperti makanan lokal, Indonesia, Singapura, India bahkan Vietnam yang baru saya kunjungi sebelum datang ke sini.

Waktu itu saya tiba di bandara KLIA2 dari penerbangan Hanoi-KL selama 3 jam dan sampai sekitar jam 7 malam waktu lokal. Kemudian saya melanjutkan perjalanan ke KL Central dengan naik bus selama lebih kurang 1 jam. Dari KL Central perjalanan dilanjutkan ke Bukit Bintang dengan monorail. Untuk informasi bandara KLIA2 dan transportasi KL Central dapat Anda baca pada link ini.

Sesampainya di Bukit Bintang sekitar jam 9 malam, saya langsung mencari lokasi tempat penginapan yang dipesan melalui Airbnb. Ini merupakan kali ketiga saya memesan penginapan melalui Airbnb. Lokasi tempatnya dekat sekali dengan Jalan Alor, Food Street. Ada sekitar 3 sampai 4 jalan kecil yang bisa tembus ke Jalan Alor dari sini. Nama tempatnya adalah Amethyst Love. Fasilitasnya menurut saya sudah persis sama seperti hotel, hanya kurang handuk, pasta gigi dan kamar mandi luar saja, sisanya semua ok. Selain itu tempatnya masih baru dan bersih. Cukup aman, nyaman dan recomended bagi teman-teman yang berminat untuk tinggal di dekat Jalan Alor Street Food.

Saat tiba di Amethyst Love, saya disambut dengan ramah oleh Mr dan Mrs. Kwan. Mrs. Kwan bertindak sebagai customer service yang mengurus administrasi pengunjung, seperti meminta passport saya untuk di fotocopy. Setelah admnistrasi selesai, Mrs. Kwan memberikan saya kunci kamar dan pagar sebelum dibawa keliling penginapan, kamar mandi dan tentunya kamar yang akan saya tempati.

Setelah Mrs. Kwan pergi, saya langsung siap-siap meletakkan barang dan pergi mandi. Waktu itu menunjukkan pukul setengah 10 malam waktu setempat, dimana saya masih belum menyantap makan malam. Pantas saja perut ini terasa lapar sekali. Selesai mandi, saya langsung menuju ke Alor Street. Sebelumnya Mrs. Kwan mengarahkan saya jalan paling cepat menuju Alor Street dari penginapannya. Dengan mengikuti arahan Mrs. Kwan, saya pun sampai di Alor Street dengan waktu kurang dari 5 menit berjalan kaki.

Sesampainya di Alor Street saya bingung untuk memilih makan malam. Bagaimana tidak, sepanjang jalan isinya hanya menjual makanan semua. Dari makanan lokal, Indonesia, Singapura, China, Vietnam, India, Korea Selatan, Jepang dan negara lainnya. Tetapi karena saat itu hujan gerimis semakin lebat, akhirnya saya menjatuhkan pilihan masuk ke salah satu tempat makan seperti pujasera. Di sini saya memesan mie kari di temani minuman es buah longan dan es milo. Yah, saat itu saya merasa dehidrasi dan perlu minuman segar lebih dari satu :D.

Tepat setelah saya selesai menikmati mie kari yang lezat, hujan gerimis pun telah reda. Kemudian saya melanjutkan mengelilingi Alor Street, sampai keluar dari sana. Di salah satu sudut jalan, terlihat keramaian orang menonton sebuah pertunjukan jalanan. Di sini seorang penyanyi sambil menari melantunkan lagu Tak Tun Tuang yang lagi ngehit di negara  ini. Lucunya lagu ini aslinya dinyanyikan oleh orang Minang dari Indonesia, tetapi ngehits duluan di negara-negara tetangga.

Setelah itu, sayapun kembali ke penginapan untuk istirahat. Waktu itu menunjukkan pukul setengah 11 malam waktu setempat. Melihat saya yang pulang awal, Mrs. Kwan menyarankan saya untuk berkeliling di Bukit Bintang lagi, karena ini adalah malam pertama dan terakhir saya di sini. Kemudian Mrs. Kwan menyuruh Mr. Kwan bertindak sebagai tour guide untuk menemani saya berkeliling sekali lagi di Bukit Bintang.

Sebenarnya saya sudah capek, tetapi karena keramahtamahan mereka dan juga tentunya lebih seru jika ada yang menemani, maka saya pun keluar sekali lagi bersama Mr. Kwan. Untuk perjalanan kali ini, Mr. Kwan menunjukkan tempat yang ramai dikunjungi untuk minum minuman beralkohol. Memang di sepanjang jalan ini terdapat bar yang menjual minuman beralkohol dan di isi oleh para turis asing. Tentunya dengan diiringi musik yang terdengar riuh sepanjang kami melewati tempat ini.

Kemudian kami berjalan ke arah shopping mall Pavilion. Dalam perjalanan menuju ke sana, Mr. Kwan menceritakan kematian orang akibat kerja pembangunan di sana. Mr. Kwan mengatakan seorang buruh pekerja bangunan melakukan kesalahan dan menjatuhkan sebongkah batu (atau apapun itu) yang jatuh saat pembangunan dan menelan korban. Pekerja tersebut melarikan diri dan kalau saya tidak salah ingat pekerja tersebut adalah seorang TKI. Selain itu, Mr. Kwan juga menceritakan tentang kondisi negaranya yang korup, polisi yang bisa di sogok, sampai tempat yang bisa saya kunjungi keesokan paginya.

Setelah sampai di Pavillion, kami hanya dapat mengelilingi lantai dasarnya saja. Shopping mall sudah tutup dan hanya tinggal lantai dasar yang menjual makanan dan minuman. Kamipun berjalan pulang lagi setelah itu. Sambil jalan, Mr. Kwan menunjukkan shopping mall lain yang bisa saya kunjungi besok harinya.

 

Keesokan paginya, saya bangun sekitar jam 8 dan siap-siap untuk keluar mencari sarapan setelah mandi. Sebenarnya di Amethyst Love tersedia sarapan gratis seperti koko krunch, pop mie, sereal dan sejenisnya. Tinggal ambil dan self service saja, tetapi kali ini saya berencana sarapan makanan di Alor Street. Ternyata keadaan Alor Street di pagi hari sangat berbeda dengan malam hari. Di pagi hari banyak stan makanan yang sudah tutup. Akhirnya pagi itu saya sarapan mie maggi goreng yang di masak oleh orang India. Rasa bumbu orang India yang khas sangat terasa pada sarapan mie goreng yang enak ini.

Setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan Sungei Wang. Waktu itu teringat Mr. Kwan berkata bahwa, saya bisa mengunjungi Sungei Wang besok pagi. Saya kira Sungei Wang ini sejenis tempat wisata berupa sungai. Ternyata jauh sekali dari yang diperkirakan, hahaha. Waktu itu saya datang kepagian, Sungei Wang baru buka sekitar jam 10. Sayapun menghabiskan waktu sambil keliling dan melihat-lihat tempat penjemputan bus GO KL. Bagi Anda yang belum tahu, bus GO KL menawarkan jasa keliling KL gratis dengan bus bagi para pengunjung di sini, karena waktu saya terbatas, maka kali ini saya hanya sebagai penonton yang melihat orang lain memakai jasa GO KL. Yah, mungkin lain kali ini bisa jadi alternatif perjalanan yang menarik.

Setelah Sungei Wang buka, saya pun menghabiskan waktu di sana, karena kepagian banyak toko yang belum buka, apalagi pengunjung yang datang. Saya hanya membeli 2 bungkus coklat di sana, sebelum melanjutkan mengunjungi shopping mall lain yang berdekatan, seperti Lot 10, Fahrenheit 88,  dan terakhir Pavillion. Saya hanya berbelanja di Pavillion untuk membeli kado pernikahan teman saya di lantai paling atas yaitu, Japan Street Corner. Di sini konsep tempatnya didesign seperti di negara Jepang, barang-barang yang di jual pun bertema jepang. Tidak hanya itu, di sini juga terdapat banyak tempat makan yang menjual makanan Jepang tentunya.

Setelah itu sayapun kembali ke tempat penginapan untuk mandi dan siap-siap check out. Saat check out ada warga negara Indonesia yang baru check in di sini. Kami sempat saling menyapa saat berpapasan di tangga, ketika Mrs. Kwan menyebutkan dia dari Indonesia juga.

Dari sini saya pun melanjutkan perjalanan menuju bandara KLIA2 dengan transportasi monorail di Bukit Bintang ke KL Central. Kemudian dilanjutkan naik KLIA Express ke bandara KLIA2. Satu hal yang menarik di Bukit Bintang adalah pengalaman kuliner saya di Alor Street, keramahtamahan Mr dan Mrs. Kwan, serta yang paling tidak penting adalah mengunjungi 4 shopping mall dalam waktu kurang dari 3 jam :D.

Leave a Reply