Foto saat awal lomba lari di Ha Long yang diambil fotografer
Life Lessons,Run,Sport,Travel

Pengalaman Pertama Lomba Lari 10K di Ha Long

Salah satu pertanyaan yang paling sering dilontarkan oleh teman saat tahu saya mengikuti lomba lari di Ha Long, Vietnam adalah “Kenapa di sana?”. Padahal banyak event lomba lari di negara sendiri, kenapa harus jauh-jauh ke negara Vietnam di Ha Long.

Ceritanya bermula dari resolusi yang saya buat pada akhir tahun 2016 untuk tahun 2017, ga bingung kan :D. Salah satu resolusinya adalah mengikuti event lomba lari. Sejak saat itu, saya menjadikan lari sebagai kebiasaan yang saya lakukan setiap sore sehabis pulang kerja. Awalnya saya memulai lari hanya 5 menit hingga sampai 30 menit setiap sesi. Kebiasaan ini saya lakukan paling tidak 3 kali dalam seminggu.

Kemudian pada bulan April, tepatnya pas tanggal ulang tahun saya, di Instagram muncul feed iklan event lomba lari di Ha Long Bay. Pas saya klik iklan dan melihat lokasinya, saya langsung tertarik dengan event ini, terutama dengan tempat pemandangannya yang bagus. Ada 4 kategori lomba lari yaitu, 5K, 10K, HM dan FM. Event lomba larinya diselenggarakan pada akhir bulan November. Masih lama pikir saya, boleh ne coba daftar dulu. Apalagi saat itu ada promo, lebih cepat daftar lebih murah. Setelah pertimbangan 1 malam, besoknya saya mendaftar kategori 10K, anggap saja hadiah bagi ulang tahun saya sendiri. Jadilah saya mengikuti lomba lari di Ha Long, Vietnam. Padahal waktu itu lari 5K aja belum pernah, hahaha.

Antara 1-2 bulan sebelum event saya sudah mulai survei harga tiket pulang pergi yang terjangkau. Saya mulai melakukan planning yang lebih matang 1 bulan sebelum berangkat. Soalnya ini bukan hanya lomba lari 10K pertama, tetapi juga perjalanan pertama saya keluar negeri sendirian. Bagi saya perjalanan kali ini bakal jadi satu tantangan tersendiri.

Semakin mendekati hari H, saya malah semakin bersemangat mencari informasi tentang tempat wisata di Vietnam. Kayaknya lebih excited untuk jalan-jalan daripada mengikuti event lomba larinya. Padahal lomba lari merupakan tujuan utama yang membawa saya ke sana :D.

Akhirnya tanggal 24 November saya menjejakkan kaki juga ke negara Vietnam untuk pertama kalinya. Tepatnya di bandara Noi Bai di Hanoi. Dari Hanoi saya naik bus lagi menuju Ha Long yang disediakan panitia event lomba lari seharga $8 untuk pergi saja. Sebenarnya bisa pesan bus untuk pulang pergi langsung, tetapi karena saya ingin lebih lama di Ha Long, maka saya memesan bus untuk pergi saja.

Di tempat penjemputan naik bus dari Hanoi ke Ha Long saya bertemu beberepa peserta lomba lari. Anda dapat membaca ceritanya di sini.

Kami sampai di Ha Long pada malam hari dan langsung berhenti di tempat pengambilan race pack lomba lari. Tempat pengambilan race pack tersebut merupakan tempat start lomba lari keesokan harinya. Pengambilan race pack berjalan lancar bagi kami, kecuali ada 2-3 orang yang tidak mendapat race pack. Panitianya sampai bertengkar dengan bahasa Vietnam yang tidak saya mengerti.

Setelah itu kami diantar ke penginapan masing-masing. Saya memesan penginapan di Airbnb waktu itu, bukan hotel official yang ditawarkan panitia event lomba lari. Sehingga saya turun dari bus di pertengahan jalan dan menuju tempat Airbnb yang saya pesan. Ceritanya dapat Anda baca di sini.

Besok paginya tanggal 25 November adalah hari perlombaan lari tersebut. Saya bangun sekitar jam 7 pagi dan makan biskuit sebagai sarapan untuk modal lomba lari. Kategori 10K dan 5K dimulai jam 8 pagi, sedangkan untuk kategori FM(Full Marathon) dan HM(Half Marathon)  masing-masing dimulai jam 6 dan 7 pagi. Sebelum lomba lari jam 8, panitia menyetel lagu Vietnam yang memompa semangat sambil mengajak peserta untuk pemanasan. Sebelum itu, saya tidak lupa untuk foto-foto, karena lokasi lomba lari sangat dekat dengan Ha Long Bay. Sehingga kita dapat melihat pemandangan Ha Long Bay yang indah dengan suhu sekitar 16 derajat celcius pagi itu.

Lima menit sebelum mulai lomba lari, peserta dikumpulkan di titik start lomba lari. MC nya waktu itu memanggil peserta berdasarkan negara kedatangan mereka. Banyak negara di Asia Tenggara yang disebut, kecuali Indonesia yang kelupaan, termasuk Malaysia juga atau mungkin saya yang budek. Untuk lomba lari ini saya tidak memakai headphone seperti yang biasa digunakan pas latihan lari, karena ingin menikmati lomba lari di Ha Long Bay yang sangat ciamik ini :D.

Jam 8 pagi lomba lari pun dimulai. Saya memulai lari dengan pace yang lambat, karena mau menghemat tenaga. Target saya saat itu adalah mempertahankan mode lari dari awal sampai akhir lomba.  Awalnya gampang, banyak pelari lain yang melewati saya, karena pace saya yang lambat. Kebiasaan orang pas ikut lomba lari adalah kadang-kadang mengikuti pace orang lain. Pelari lain cepat, dia juga ikut cepat, sehingga akhirnya kewalahan sendiri.

Dari awal ikut lomba lari ini, saya tidak mengincar untuk mengalahkan orang lain, apabila mengincar juara 1. Target saya cuma satu, yaitu finish. Dengan menyelesaikan lomba lari 10K ini, berarti saya telah mengalahkan satu orang yaitu diri sendiri. Yah, saya akan mengalahkan diri saya sendiri, diri saya yang tahun lalu bahkan tidak berpikir akan berada di sini, apalagi mengikuti event lomba lari. Waktu itu saya kepikiran bakal menjadikan lari sebagai kebiasaan saja tidak.

Saat kilometer pertama dan kedua saya menikmati lomba larinya dengan pace yang lambat sambil mencuci mata dengan suguhan pemandangan Ha Long Bay yang memukau. Keringatan saja tidak saya rasakan, mungkin karena cuaca yang dingin. Suhu tubuh saya juga sudah lebih panas dari sebelumnya dan rasa dingin sebelumnya sudah tidak begitu terasa.

Pada kilometer ketiga saya masih menikmati pemandangan Ha Long Bay sambil berlari. Cuaca yang dingin sangat cocok untuk menemani lari pagi ini. Lari memang olahraga yang cocok untuk menghangatkan tubuh saat cuaca yang dingin. Di kilometer ketiga ini, para pelari dapat berhenti sebentar untuk minum air di water station yang disediakan panitia. Saya lupa saat itu mengambil minum air putih atau air berenergi.

Pas kilometer keempat baru saya merasakan sedikit kecapekan, tetapi saya masih tidak merasakan tubuh saya berkeringat. Ternyata semua itu cuma ilusi, karena saat saya menyentuh kepala saya, rambut saya sudah basah akibat keringat. Saya sama sekali tidak merasakan adanya keringat waktu itu, mungkin karena cuaca yang dingin, makanya sampai tidak sadar adanya keringat di kepala.

Menjelang sampai KM ke-5 atau turning point, saya mendapat ujian berat. Apa itu? jalan menanjak dan memutar! di sini saya akhirnya menyerah dan mengganti mode lari menjadi mode jalan. Yah, kecewa sama diri sendiri, karena tidak sanggup memegang komitmen awal untuk menyelesaikan lomba lari ini dengan mode lari dari awal sampai finish. I am really fell like a failed person here.

Setelah dipikir lagi, saya bukannya menyerah, hanya melambat. Walaupun dengan mode jalan, tetapi saya tetap bergerak maju. Yah proses menjadi lambat bukan berarti menyerah. Ingat tujuan utama saya yaitu  menyelesaikan lomba lari 10K. Tidak ada peraturan yang mengatakan saya tidak boleh berjalan, bahkan ada yang berhenti sambil foto-foto dan menikmati Ha Long Bay. Jangan hanya karena terlalu keras dengan diri sendiri dan membuat peraturan yang malah menjatuhkan mental dan merusak seluruh kegiatan kali ini. Iya, saat ini perjalanan memang berat, tetapi tidak berarti kita tidak boleh berhenti sesaat untuk mengambil nafas.

If you get tired learn to rest, not to quit.

Bansky

Tidak lama kemudian sayapun sampai ke turning point 5KM. Berarti saya telah menyelesaikan setengah dari lomba lari ini. Perjalanan menuju turning point memang berat, karena harus lari melawan gravitasi di tanjakan, tetapi setelahnya jauh lebih mudah. Di turning point panitia menyediakan minuman dan tempat selfie bagi pelari. Waktu itu saya berhenti sebentar untuk minum air sebelum melanjutkan berlari.

Pada saat turunan, saya berlari dengan pace paling cepat sepanjang lomba ini. Bagaimana tidak, gravitasi saja mendukung beban tubuh kita saat itu. Waktu itu saya merasakan kaki ini seolah tidak mau berhenti melaju, semakin lama semakin cepat. Semakin kencang saya berlari, semakin senang perasaan saya waktu itu. Mungkin inilah yang dirasakan para pelari, dititik-titik tertentu saat kita tidak mau berhenti berlari dan semakin kencang kita berlari, maka semakin bahagia yang kita rasakan.

Saat berlari di jalan menurun memang jauh lebih mudah. Tidak terasa 1 KM saya lalui dengan mudah. Diantara KM ke-6 sampai 9, saya ganti-gantian antara mode lari dan jalan. Ya, saya tidak sekeras sebelumnya terhadap diri saya lagi. Kalau belum sanggup apa boleh buat. Disaat itu saya juga menghibur diri sendiri dengan berkata dalam hati “Ingat! kaki dan staminamu itu nanti masih mau dipakai untuk jalan-jalan ke pelbagai tempat wisata di Vietnam!”, hahaha.

Di kilometer terakhir, saatnya saya berlari lagi. Semakin dekat dengan garis finish, semakin besar suara gendang yang dibunyikan panitia terdengar.  Selain itu, di kiri, kanan dan depan garis finish keliatan fotografer yang sudah siap-siap untuk mengambil gambar para peserta lari yang menuju garis finish. Inilah detik-detik saat saya harus pose lari dengan semangat dan keren :D. Dan ternyata hasil yang didapat………

Saat mencapai 200 meter terakhir, saya semakin semangat berlari, karena ada fotografer dan tentunya karena garis finish sudah di depan mata. Saat mencapai garis finish saya sudah kehilangan nafas. Suara gendang yang keras dan banyaknya orang disekitar membuat saya kehilangan fokus. Tiba-tiba saya sudah dikalungin medali finisher untuk kategori 10K sama panitia. Setelah itu saya langsung menyingkir dari keramaian dan pergi ke water station untuk mengambil air dan merasakan segarnya minum saat itu.

Momen-momen ini merupakan salah satu hal yang saya benci dari berlari, yaitu saat kita berhenti secara tiba-tiba. Kalau saat berlari kencang kemudian berubah ke mode jalan masih ok, tetapi saat berlari kencang dan kemudian langsung berhenti, itu rasanya mengesalkan. Sama seperti kita naik motor kencang, tiba-tiba di depan ada mobil yang bergerak lambat dan tidak memberi kita ruang untuk memotong jalur jalan :D.

Setelah berhenti, minum air dan mengambil nafas sebentar, baru saya fokus melihat sekeliling. Ternyata panitia juga menyediakan makanan bagi peserta lomba lari, kebetulan sekali bagi saya yang cuma makan biskuit tadi pagi. Makanannya adalah spageti yang ditempatkan dalam gelas plastik dan dimakan menggunakan sumpit kayu. Rasanya tidak diragukan lagi, enak sekali. Entah karena saya yang kelaparan atau memang rasanya enak. Intinya saya sangat menikmati spageti tersebut pagi itu, hahaha.

Oh ya, satu hal yang penting setelah selesai lomba lari adalah catatan waktu lari kita. Waktu itu saya tidak fokus mendengar waktu yang diumumkan panitia saat sampai di garis finish, selain itu saya juga tidak set timer di smartphone. Jadinya saya tidak tahu catatan waktunya. Tetapi tidak perlu khawatir, karena panitia akan mengupload catatan waktu tersebut di laman resmi websitenya setelah acara berakhir. Dari sana kita bisa lihat catatan waktu semua peserta lomba lari yang dibagi perkategori dan sesuai umur maupun jenis kelamin. Selain itu, di website resminya kita juga dapat mencari foto kita di gallery pada website ataupun halaman Facebook Ha Long Marathon.

Begitulah pengalaman pertama saya menyelesaikan lomba lari 10K di Ha Long, Vietnam. Rasa capek itu pasti ada, tetapi semua itu tertutupi dengan rasa puas dan bangga akan diri saya sendiri, karena berhasil menyelesaikan salah satu resolusi di tahun 2017. Ada juga satu hal yang bisa saya lakukan dengan baik tahun itu, yah mungkin tidak baik-baik amat sih, tetapi sangat berarti.

Post Lomba setelah pulang ke Indonesia

Setelah selesai perlombaan, banyak orang yang menanyakan “Juara berapa kamu lomba lari?”. Iya, sebenarnya saya ikut lomba lari ini bukan untuk mengincar juaranya ya. Lihat saja tuh pencapaian saya, juara 216 dari 295 orang. Banyak pelari yang lebih baik dari saya, ada juga beberapa pelari di belakang saya, tetapi semua itu tidak penting. Yang penting adalah saya telah menaklukkan satu orang yang paling penting. Siapa dia? ya saya sendiri, saya yang tahun kemaren berlari 1K saja tidak pernah, saya yang bulan kemaren belum pernah latihan lari sepanjang 10K dan saya yang kemaren masih ragu apakah bisa menyelesaikan lomba lari kali ini. Bagi saya, dengan berlari maka akan mengalirkan kekuatan positif dalam diri kita. Setidaknya ada satu hal yang bisa kita lakukan dalam hidup. Sederhana tetapi berarti untuk kita.

Hal terakhir yang ingin saya tulis untuk menutup cerita ini adalah, saya sudah tidak sabar dengan perjalanan dan lomba lari saya yang berikutnya. Apakah lomba lari 10K lagi? atau mungkin Half Marathon? Semua itu tidak masalah, karena saya yakin bisa menaklukkan lomba lari lain kali dengan lebih baik lagi.

 

Leave a Reply