Suasana malam hari di Old Quarter dan danau Hoan Kiem Lake
Travel

Pertama Kali Jalan-Jalan ke Hanoi, Vietnam

Masih ingatkah kalian waktu sekolah dulu, saat kita disuruh menghapal negara-negara di Asia Tenggara alias ASEAN? Salah satu yang termasuk ke dalam negara ASEAN adalah Vietnam dan baru-baru ini akhirnya saya berkesempatan menjejakkan kaki ke ibukota negara Vietnam, yaitu Hanoi. Bagi kita warga negara Indonesia, maka dinyatakan bebas visa untuk berkunjung ke sini.

Tidak ada perbedaan waktu antara Hanoi dan Jakarta. Hanoi memiliki waktu yang sama bagi kita yang tinggal di wilayah Indonesia bagian barat yaitu menggunakan Waktu Indonesia Barat (WIB).

Satuan mata uang Vietnam adalah dong. Vietnam adalah salah satu negara Asia Tenggara yang nominal mata uangnya besar, mirip dengan Indonesia. Untuk 1 Dong seharga dengan 0.59 Rupiah (harga saat artikel ini ditulis). Jadi 10.000 dong seharga lebih kurang 6.000 rupiah Indonesia.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ke Ibukota negara Vietnam, yaitu Hanoi. Saat itu saya naik Airasia dari bandara KLIA2, Kuala Lumpur, Malaysia ke bandara internasional Hanoi, yaitu Noi Bai yang memakan waktu lebih kurang 3 jam.

Hal pertama yang saya lakukan setelah melewati pintu imigrasi adalah membeli kartu paket data internet. Kartu yang dibeli saat itu adalah vinaphone seharga 250K dong/$12 yaitu sekitar 150K rupiah dan berlaku untuk 1 minggu.

Kemudian saya mendapat info dari penjual kartu untuk naik bus 86 dari bandara ke Hanoi dengan biaya 30K dong atau sekitar 18K rupiah. Bus 86 ini akan men-pick up penumpang pas di sebelah kiri, setelah keluar dari pintu bandara Noi Bai. Naik bus jauh lebih hemat daripada memesan taxi ataupun transporasi online seperti Grab dan Uber yang sudah terdapat di Hanoi. Perjalanan naik bus dari bandara sampai ke Hanoi, tepatnya di Old Quarter memakan waktu sekitar 45 menit.

Tempat yang saya kunjungi pertama kali saat berada di Old Quarter adalah danau Hoan Kiem Lake. Danau ini terdapat tidak jauh dari Old Quarter. Lokasinya juga tidak sulit untuk ditemui, setelah keluar dari Old Quarter maka kita sudah berada di danau Hoan Kiem Lake. Selain itu, kita cukup berjalan kaki saja ke sini dari Old Quarter. Oh ya, Old Quarter merupakan nama tempat di Hanoi. Di daerah ini sangat ramai dengan pedagang yang menjual perbagai jenis barang kebutuhan, maupun agensi wisata.

Di sepanjang tepian danau Hoan Kiem Lake penuh dengan para wisatawan. Banyak mahasiswa dan mahasiswi di Hanoi yang menawarkan diri menjadi tur guide secara gratis. Mereka menawarkan gratis kepada pengunjung, karena ingin belajar berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Bagi saya yang bertampang lokal tentu saja dicuekin, hahaha.

Suhu di tepi danau Hoan Kiem Lake pagi itu sekitar 14 derajat celcius. Saat itu akhir bulan November dan Hanoi sedang mengalami musim dingin. Tidak heran para penduduk lokal dan wisatawan mengenakan pakaian musim dingin, kecuali saya yang datang memakai jaket parasut dan celana pendek :D.

Salah satu tempat menarik di danau Hoan Kiem Lake adalah kuil Ngoc Son yang terdapat di tengah danau. Kuil ini bisa dicapai dengan melewati jembatan merah. Di dalam kuil Ngoc Son terdapat kura-kura raksasa yang telah diawetkan. Kura-kura ini sangat dihormati masyarakat Hanoi, hingga akhir hayatnya banyak masyarakat Hanoi yang berduka atas kematiannya.

Untuk masuk ke kuil ini perlu membeli tiket seharga 20K dong atau sekitar 12 ribu rupiah. Kuil ini sebenarnya tidak begitu menarik, dengan waktu 5 sampai 10 menit saja Anda sudah bisa mengelilingi tempat ini. Kuil Ngoc Soc banyak dikunjungi para wisatawan karena terdapat di tengah danau.

Kemudian saya melanjutkan perjalanan mengelilingi danau Hoan Kiem Lake hingga melihat sebuah patung megah di seberang jalan. Tempat itu adalah Ly Thai To Park (Taman Ly Thai To). Di taman ini banyak mahasiswa-mahasiswi Hanoi yang sedang latihan drama. Oh ya, hati-hati saat menyeberang jalan di Hanoi, karena pengendara di sini tidak akan mengurangi kecepatan hanya karena melihat kita akan lewat.

Setelah mengelilingi danau Hoan Kiem Lake, saya kembali ke Old Quarter untuk mencoba egg coffee atau kopi telur di Hanoi. Saat itu saya mencoba egg coffee di Giang Cafe, salah satu kedai kopi legendaris di Hanoi. Kedai kopi ini terletak di Old Quarter dan telah berjualan sejak tahun 1946. Lokasi kedai kopi ini tidak terlalu sulit ditemukan. Untuk lebih jelasnya Anda bisa membaca cerita saya mencoba egg coffee di sini.

Selesai minum kopi telur saya makan siang dengan nasi goreng sebelum melanjutkan perjalanan ke Ha Long. Hari pertama saya hanya punya waktu 3-4 jam di Hanoi, karena akan berangkat ke Ha Long untuk mengikuti lomba lari keesokan harinya. Setelah 3 hari di Ha Long saya kembali ke Hanoi dengan bus dan tiba saat malam hari.

Malam itu saya menginap di May De Ville Legend Hotel. Saya memesan hostel tersebut dengan aplikasi Traveloka sebelum pergi ke Hanoi seharga lebih kurang Rp. 50.000/malam. Setelah keliling Old Quarter dan tidak menemukan lokasi hostel ini, saya berniat memesan Grab bike. Saat saya bingung mencari lokasi hostel di aplikasi, karena ada beberapa tempat dengan nama yang sama, ada driver grab bike yang datang dan menawari untuk mengantar ke sana.

Pemesanan waktu itu tidak dilakukan melalui aplikasi. Jadi setelah sampai ke tujuan dan menanyakan harga, driver Grab tersebut malah bilang “Kamu mau bayar saya berapa?”, karena sebelumnya saya sudah melihat harga jika pesan melalui aplikasi, yaitu sekitar 15K dong, maka saya menawarkan membayar 20K dong. Kemudian driver tersebut mengatakan “No, No, No! the traffic is busy and so many vehicle in the road”. Saya balik tanya dia ingin berapa dan driver tersebut mengatakan 50k dong. Setelah berdiskusi lagi dan tidak mencapai kata sepakat, saya mengeluarkan dompet dan membayar dia 25k dong sambil berbalik badan dan tidak lupa mengucapkan terima kasih dalam bahasa Vietnam “Cam en”.  Yah, setelah itu drivernya juga pergi. Sebenarnya harga yang saya bayar sudah lebih dari cukup.

Kemudian setelah check in di hostel, sayapun keluar untuk mencari makan malam sambil menikmati kota hanoi di malam hari. Owh ya, jangan terkejut jika paspor anda ditahan pihak penginapan, karena ternyata emang rata-rata prosedurnya seperti itu di Hanoi.

Malam itu saya keliling Old Quarter dan pergi ke danau Hoan Kiem Lake lagi. Suasana dimalam hari tidak berbeda dengan pagi hari sebelumnya. Masih terlihat banyak wisatawan memadati wilayah ini. Waktu itu saya makan malam dengan banh mi dan ice cream durian. Sambil makan banh mi saya mengelilingi danau Hoan Kiem Lake. Malam hari di tepian danau sangat ramai, baik itu aktivitas wisatawan maupun warga lokal. Masih banyak orang-orang yang berolahraga disini pada malam hari.

Saya tidak jalan terlalu larut malam itu, karena besok paginya saya akan melanjutkan perjalanan ke Ninh Binh. Baca cerita pengalaman saya ke Ninh Binh di sini. Keesokan harinya saya ke Ninh Binh dan pulang ke Hanoi pada malam itu juga. Setelah itu saya langsung beristirahat di hostel. Pagi besoknya adalah hari terakhir saya di Hanoi dan hanya punya waktu setengah hari lagi untuk jalan-jalan di Hanoi. Sebelum tidur saya browsing dulu untuk melihat tempat yang bisa di kunjungi besok paginya.

Besok paginya setelah sarapan, saya berjalan kaki menuju tujuan pertama yaitu St. Joseph’s Cathedral yang terletak tidak jauh dari danau Hoan Kiem Lake. St. Joseph’s Cathedral adalah gereja yang dibangun pada akhir abad ke-19. Pagi itu hanya ada beberapa orang yang datang mengunjungi tempat ini untuk mengambil gambar dari luar gereja termasuk saya.

Kemudian saya melanjutkan berjalan kaki menuju tujuan ke-2 saya pagi itu, yaitu Hoa Lu Prison. Sesuai namanya tempat ini dulunya adalah sebuah penjara yang digunakan pada masa pendudukan Prancis. Sekarang tempat ini bisa dikunjungi karena berfungsi sebagai museum. Anda cukup membayar harga tiket seharga 30k dong untuk masuk dan melihat Hoa Lu Prison.

Bangunan Hoa Lu Prison berlantai 2, dimana lantai pertama adalah tempat tahanan. Di sini kita dapat melihat kondisi para tahanan yang diborgol sebelah kakinya. Selain itu juga peralatan makan, pakaian dan alat keseharian yang digunakan oleh para tahanan. Sedangkan di lantai 2 jauh berbeda suasananya dengan lantai 1, dimana di lantai 2 berisi baju-baju dan artifak para komandan penjajah serta prasasti-prasasti berwarna emas.

Setelah sekitar setengah jam di Hoa Lu Prison, sayapun melanjutkan perjalanan ke Temple of Literature. Kali ini saya memesan grab bike, karena jarak lokasi yang lumayan jauh. Temple of Literature merupakan kuil yang dulunya digunakan sebagai universitas pertama di Vietnam, sehingga sekarang banyak mahasiswa-mahasiswi yang menggunakan tempat ini untuk mengambil foto kelulusan.

Untuk masuk ke Temple of Literature kita harus membeli tiket seharga 30K dong. Bangunannya cukup luas dan memanjang ke belakang, mungkin hampir atau seluas lapangan bola kaki. Saat itu sepertinya ada acara, karena ada sekelompok anak sekolah datang ke sana. Menurut saya tempat ini cukup rekomen untuk dikunjungi saat berada di Hanoi.

Terakhir, saya melanjutkan perjalanan ke Dong Xuan Market dengan grab bike dari Temple of Literature. Dong Xuan Market adalah pasar bagi para pedagang grosir. Di sini terdapat pedagang yang menjual pakaian, barang rumah tangga, pernak-pernik, oleh-oleh, hingga bahan makanan. Pasar ini berlantai 2 dan sangat luas. Keadaan di dalam penuh sesak antara pembeli dan penjual. Karena saya tidak hobi belanja dan stok uang juga sudah menipis, maka saat itu saya hanya membeli coklat sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Dong Xuan Market adalah destinasi terakhir saya di Hanoi waktu itu. Saya melanjutkan kembali ke hostel untuk check out. Jarak Dong Xuan Market dan hostel masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 15 menit. Sebelum check out saya masih sempat mandi terlebih dahulu.

Kemudian, sebelum jam 12 siang, saya memesan grab bike menuju bandara. Perjalanan memakan waktu sekitar lebih dari setengah jam dan dikenai biaya 121k dong atau sekitar 70an ribu rupiah. Waktu sampai di sana, motor tidak boleh masuk ke dalam bandara, jadi kita harus berjalan kaki sekitar lebih kurang 500 meter.

Setelah sampai di sana saya harus naik shuttle bus lagi ke terminal 2 untuk penerbangan internasional, karena terminal 1 untuk penerbangan lokal Vietnam. Naik shuttle bus ke terminal 2 gratis, karena merupakan fasilitas bandara.

Sebelum penerbangan, saya sempat makan siang di bandara sambil menunggu kedatangan pesawat menuju ke Kuala Lumpur, Malaysia. Dari sana saya akan tinggal 1 hari sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Indonesia.

Walaupun berada di Hanoi, tetapi saya tidak menghabiskan banyak waktu jalan-jalan di sina. Salah satu alasannya adalah apabila berada di Hanoi, maka banyak tempat wisata lain yang bisa kita kunjungi dengan mudah dari Hanoi. Anda bisa ke Ha Long Bay, Tam Coc, Sapa, dll. Alhasil saya hanya menyisipkan waktu untuk menjelajah Hanoi disela-sela waktu tersebut. Walaupun begitu, banyak juga tempat yang bisa dikunjungi di Hanoi, karena tempatnya berdekatan dan banyak spot-spot wisata juga. Sebagian sempat saya kunjungi dan sebagian lagi tidak.

Note: Di Old Quarter ada beberapa nama usaha yang sama, seperti agensi perjalanan maupun tempat penginapan seperti yang saya alami. May De Ville Legend Hotel ada yang hotel dan ada yang hostel, pastikan lokasi tempat yang benar di peta.

1 Comment

Leave a Reply