Mr. V sedang mengambil foto di puncak gunung Bai Tho
Life Lessons,Travel

Pertualangan di Ha Long Bay Mendaki Gunung Bai Tho dengan Mr. V – Part 2

Setelah kembali ke penginapan dari perjalanan tur kapal pesiar mengelilingi Ha Long Bay. Baca ceritanya di sini. Saya pun kembali ke kamar untuk mandi dan istirahat sejenak. Setelah itu saya turun dari kamar saya di lantai 4 untuk makan malam dengan Mr. V dan membicarakan rencana perjalanan kami untuk mendaki gunung besok paginya.

Kami makan di hostel saja malam itu dengan memesan nasi goreng. Waktu itu Mr. V memesan nasi goreng telur saja, karena dia vegan, sedangkan saya memesan nasi goreng udang. Oh ya, di Halong Happy Hostel setiap orang mendapat 1 botol bir gratis yang bisa diambil antara jam 7-9 malam. Saat itu Mr. V mendapat 1 botol gratis lagi, karena saya tidak minum bir.

Setelah makan dan menentukan jadwal berangkat besok pagi, kamipun mengobrol sebentar, sebelum saya balik ke kamar untuk istirahat, sedangkan Mr. V masih nongkrong di sana dengan botol bir gratisnya :D. Waktu itu saya berharap dengan istirahat lebih awal, maka besok paginya kaki saya akan lebih baik, karena tadi seharian naik turun tangga, termasuk naik ke kamar saya di lantai 4 saat itu.

Satu hal yang teringat dengan jelas saat kami mengobrol adalah sewaktu Mr. V menanyakan umur saya. Dia agak terkejut waktu saya bilang 27. Mr. V pikir saya masih anak kuliahan, hahaha. Dia sendiri berumur 30 tahun. Oh ya, responnya sewaktu tahu saya berumur 27 tahun adalah “It’s time man!”. Yup, dia memanggil saya dengan kata man dari awal sampai akhir perjalanan, tetapi bukan itu poin yang ingin saya jelaskan disini. Kalimat “It’s time man!” membuat saya berpikir banyak tentang kehidupan saya sampai saat ini. Selama ini saya selalu berkutat di zona nyaman, bertahan dengan hal-hal yang tidak disukai, menghabiskan waktu untuk hal yang tidak saya minati dan mengorbankan kreatifitas demi keamanan finansial. Kalimat tersebut membuat saya sadar dan lebih berani untuk bertindak serta membuat keputusan penting dalam kehidupan saya.

Besok paginya, saat bangun kaki saya sudah merasa lebih baik. Saat itu juga Mr. V chat Whatsapp dan mengatakan dia akan segera turun untuk sarapan. Saya pun menyusul beberapa menit kemudian setelah mandi. Waktu itu kami makan sarapan sederhana ala barat gratis dari pihak hostel. Setelah sarapan, saya memesan grab car dan kamipun berangkat ke lokasi pendakian gunung Bai Tho.

Grab car mengantar kami ke sisi 1 lagi kota Ha Long. Kami menyeberangi jembatan Bai Chay dan sampai di sana tidak lebih dari setengah jam. Lokasi untuk mendaki gunung Bai Tho tidak sulit dijumpai. Lokasi untuk masuk ke kaki gunung harus menaiki tangga yang berada di antara 2 ruko.

Saat sampai di ujung lorong antara 2 ruko, di sana terdapat sebuah rumah. Di teras rumah ada seorang kakek yang duduk di kursi pas sebelah kanan pintu. Kemudian, keluar seorang ibu-ibu yang berbicara dengan bahasa Vietnam dan melambaikan tangannya ke kiri dan kanan menandakan penolakan. Selain itu, dia juga menunjuk ke sebuah papan putih dengan tulisan warna merah yang berbahasa inggris. Saat ini saya cuma teringat membaca kata dangerous yang artinya berbahaya. Saat saya sedang memperhatikan ibu yang terus mengisyaratkan penolakan tersebut, Mr. V mengabaikannya dan terus menyodorkan uang ke kakek yang duduk di teras rumah agar dapat lewat. Beberapa saat kemudian, dari dalam rumah keluar seorang nenek. Nenek tersebut melambaikan tangan ke arah depan dan dari raut wajahnya saya bisa membaca bahwa dia memperbolehkan kami lewat, bukan mengusir kami.

Kemudian dari arah belakang muncul seorang bapak yang mengisyaratkan kami agar mengikuti dia. Ternyata kami harus membayar ke bapak tersebut, bukan kepada kakek sebelumnya, hahaha. Bapak tersebut meminta bayaran 20K dong per orang, bukan 10K dong seperti yang diceritakan Lisa, pemilik Halong Happy Hostel. Sesudah membayar, bapak tersebut pun membuka pagar besi yang digembok di samping kanan rumah tersebut. Dari sanalah kami memulai perjalanan mendaki gunung Bai Tho.

Baru awal pendakian, kaki saya sudah merasa sakit. Untungnya awal perjalanan masih mudah, karena jarak antar tangga luas. Tetapi semakin lama, jarak antar tangga semakin sempit, hingga tangganya hilang dan tinggal bebatuan serta semakin curam saat akan tiba di puncak.

Kami sampai di puncak setelah lebih kurang setengah jam lebih pendakian. Pemandangan di puncak gunung Bai Tho seperti Yin dan Yang. Di satu sisi kita melihat kota Ha Long dan di sisi lain kita dapat melihat Ha Long Bay yang terdiri dari ribuan pulau.

Walaupun travel bersama Mr. V, tetapi kami sebenarnya tidak banyak bicara satu sama lain. Saat berada di puncak Ha Long pun, kami lebih memilih menikmati pemandangan Ha Long Bay di masing-masing spot yang terpisah oleh batu. Yah, inti dari perjalanan saya kali ini adalah memiliki waktu untuk diri sendiri dan mendapat teman perjalanan seperti Mr. V sangat cocok bagi saya yang introvert. Dunia ini sudah dipenuhi terlalu banyak orang yang bicara tanpa henti. Diamlah sesaat dan nikmati keheningan ini. Tidak ada yang salah dengan kesunyian, tidak ada yang menakutkan dari kesendirian. Justru kesunyian dan kesendirian menunjukkan betapa kuatnya orang tersebut. Seperti yang ditulis oleh Susan Cain dalam subtitle bukunya Quiet.

The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking.

Susan Cain

Buku di atas sangat rekomended bagi Anda yang introvert dan ingin mengenal lebih dalam tentang diri Anda sendiri. Bagi Anda yang ekstrovert, tidak ada salahnya juga membaca buku tersebut, bisa saja orang tua atau pasangan Anda seorang introvert. Jadi Anda akan lebih mengerti tentang dirinya, begitu juga sebaliknya.

Ok, balik lagi ke puncak gunung Bai Tho. Setelah lebih kurang setengah jam lebih di sana, kami pun turun kembali. Kami tidak punya banyak waktu di sini. Siang harinya kami sudah akan meninggalkan Ha Long. Saya akan melanjutkan perjalanan ke kota Hanoi, sedangkan Mr. V akan ke provinsi Ninh Binh.

Dalam perjalanan turun, penderitaan sayapun dimulai lagi. Rasa sakit dikaki lebih terasa saat turun dibanding saat mendaki. Mr.V sudah turun menjauh dan tidak kelihatan lagi. Sesaat kemudian dia berteriak “Are you okay?”, sayapun membalas “You go first, I will take some time”. Mr. V pun turun terlebih dahulu, sedangkan saya turun dengan lambatnya, hahaha. Saat turun, saya berjumpa dengan 3 orang barat yang baru akan naik gunung. Pertama saya berjumpa dengan 1 pasangan pria dan wanita. Kemudian berjumpa lagi dengan seorang wanita solo traveler. Kami hanya saling bertegur sapa sebelum melanjutkan perjalanan kami masing-masing.

Sekitar jam 10 lewat, akhirnya saya sampai juga di bawah. Mr. V sudah menunggu dari tadi tentunya. Sebelum pulang ke hostel, kami berencana untuk mencari makan siang terlebih dahulu. Awalnya kami berjalan tanpa arah dan tujuan. Sebelum akhirnya saya teringat punya aplikasi keren bernama Google Maps. Saya mencari tempat makan vege di maps, karena Mr. V seorang vegan. Pada aplikasi terlihat sebuah tempat makan vege tidak jauh dari posisi kami. Kami pun berjalan kaki ke sana sekitar lebih kurang 200 meter.

Nama tempat makan vegetarian tersebut adalah Loving Hut. Menu makan di sana prasmanan, jadi kita ambil nasi dan lauknya sendiri. Tidak jauh berbeda dengan rata-rata tempat makan vege di Indonesia, Pekanbaru tentunya. Rasanya ga perlu diragukan lagi, Mr.V sampai tambah 3 kali dan mungkin mencoba hampir semua menu di sana. Waktu menambah untuk ke-3 kalinya, Mr.V bilang “It has been 5 days since I eat delicious food”, hahaha. Lima hari yang lalu artinya waktu dia masih berada di Thailand. We are very sorry Vietnam, but the food here doesn’t suit our taste, except this.

Total harga makan di sana waktu itu 150K dong atau sekitar 90-100 ribu rupiah. Waktu itu saya di traktir oleh Mr. V, katanya terima kasih karena telah menemukan tempat makan vege yang enak di sini. Mr. V sampai menyimpan posisi tempat makan ini untuk dikirim ke temannya yang berencana travelling ke Ha Long.

Setelah itu kami pun kembali ke hostel dengan memesan Grab Car. Kali ini biaya perjalanan pulang-pergi saya yang bayar. Gantian dong, masa dibayarin terus. Dalam perjalanan pulang, Mr. V bilang kalau ke Amerika jangan lupa kabarin dia. Dalam hati saya berpikir “Mudah-mudaha jejak kaki ke sana, hahaha”. Waktu saya tanya dia di Amerika bagian mana, dia bilang ga masalah kamu ke Amerika mananya, saya punya teman di mana-mana di sana. Duh, andai bisa ke Amerika ya, ops harus optimis dong, hahaha.

Setelah sampai di hostel, kamipun balik ke kamar masing-masing untuk siap-siap check out. Bus saya ke Hanoi akan berangkat jam 12 siang, sedangkan bus Mr. V akan berangkat jam 1 siang. Sebelum check out saya masih sempat mandi dan kemudian turun untuk charge HP sambil menunggu bus datang. Setelah bus datang, saya tidak sempat berpisah langsung dengan Mr. V. Jadi say good bye dengan Whatsapp saja.

Jika tidak melakukan perjalanan sendiri dan bertemu dengan Mr.V, mungkin saya tidak akan mendaki gunung Bai Tho dan melihat keindahan Ha Long Bay di puncak gunung. Saat mengingat kejadian tersebut, lucu juga dan salut pada kegigihan Mr. V yang terus menyodorkan uang agar dapat mendaki gunung Bai Tho dan menghiraukan ibu-ibu yang melarang kami untuk naik tersebut.

Yah, ini adalah salah satu kelebihan solo travelling, kita tidak tahu akan bertemu siapa dan merubah rencana perjalanan kita untuk travelling bersama. Dengan travelling sendiri kita akan lebih mudah bertemu teman yang bisa di ajak bergabung, coba bayangkan kalau kalian bepergian ramai-ramai, orang lain juga jadi segan dan susah untuk mendekati kita. Bukan tidak mungkin, hanya saja tidak mudah, apalagi bagi introvert, hahaha.

Intinya perjalanan di Ha Long merupakan salah satu pengalaman berkesan bagi saya di tahun 2017. Selain melihat Ha Long Bay dengan mengikuti tur, saya juga pergi ke tempat yang tidak mungkin dikunjungi dengan mengikuti tur. Bertemu dengan teman sesama traveler, berbicara dengan bahasa berbeda, cuaca yang dingin dan budaya yang tidak sama dengan Indonesia tentunya. Jika ada kesempatan, maka saya ingin mengunjungi Ha Long sekali lagi.

Note: Mr. V, incase if you read this. I write story about our experience travelling together. It’s an awesome trip with you, especially at Bai Tho mountain. Thanks for the lunch at Loving Hut and keep running.

Leave a Reply