Pengalaman pertama dengan Airbnb
Travel

Pengalaman Pertama dengan Airbnb

Ada yang tahu apa itu Airbnb? atau anda malah salah satu host yang menggunakan jasa Airbnb ini. Yah, Airbnb adalah salah satu layanan online untuk memesan tempat menginap atau menyewakan tempat tinggal kita bagi orang lain. Tempat yang disewakan biasanya merupakan rumah, tetapi akhir-akhir ini banyak juga yang menyewakan apartemen dan hostel di Airbnb.

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman pertama saya menggunakan Airbnb. Tempat yang pertama saya pesan adalah di Ha Long, Vietnam. Saya memesan Airbnb di sini untuk menginap 1 malam, dalam rangka mengikuti event lomba lari besok paginya. Kebetulan tempat yang saya pesan adalah rumah warga lokal di Ha Long.

Karena ini adalah pertama kali saya travel sendirian dan pertama kali pula memakai Airbnb, maka 1 bulan sebelum memesan saya sudah survey beberapa tempat yang dekat dengan lokasi start lomba lari. Setelah mengirim pesan private dengan beberapa pemilik tempat sewa, akhirnya saya memesan tempat Thinh Nguyen. Selain memesan tempat tinggal, saya juga menanyakan kepada Thinh, apakah ada tempat penyewaan sepeda di sana? Kemudian, Thinh inisiatif menawarkan sepeda milik pamannya atau bisa juga sepeda motor miliknya dengan biaya sewa dihitung perhari.

Saya tiba di Ha Long dengan bus event lomba lari, yang langsung mengantar kami ke lokasi pengambilan race pack sekitar jam 7 malam. Setelah mengambil race pack, bus mengantar peserta ke hotel resmi event tersebut, karena saya tidak memesan hotel yang disediakan (lumayan mahal), maka saat perjalanan kesana, saya minta panitia untuk stop busnya di persimpangan jalan, dekat dengan lokasi saya menginap di Airbnb.

Dekat sih, tapi kalau jalan kaki lumayan jauh dan saat itu sudah gelap, jadi saya memutuskan untuk memesan Grab Bike saja. Ternyata di Ha Long tidak ada Grab Bike sama sekali, yang ada hanya Grab Car. Ya sudahlah daripada jalan kaki. Grab Car pertama yang saya pesan mobilnya tidak bergerak dari posisinya. Drivernya kirim pesan ke saya dengan bahasa Vietnam. Saya balas dengan pesan “English Please” yang kemudian dibalas juga dengan bahasa Vietnam. Setelah 5 atau 10 menit mobilnya tidak gerak-gerak dari peta dan masih bermasalah dengan komunikasi, akhirnya saya batalkan saja pesanan ini dan memesan driver lain. Untungnya pesanan yang kedua driver langsung menuju ke tempat saya.

Sesuai intruksi dari Thinh, saya cukup drop off di Queen Hotel, karena ayahnya akan menjemput saya di sana. Dia memberikan saya nomor HP ayahnya untuk dihubungi apabila sudah tiba di sana. Setelah sampai di Queen Hotel dengan Grab Car yang seharga 22 ribu dong atau sekitar 13 ribu rupiah, saya memilih untuk tidak menghubungi ayah Thinh. Berbekal google maps saya pun mencari tempat yang disewakan Thinh.

Setelah bertanya sana sini dan terakhir diarahkan seorang ibu-ibu, akhirnya saya tepat berada di depan rumah ayahnya Thinh. Ternyata pemilik rumah tidak ada, ibu-ibu tersebut menyerahkan saya ke tetangga Thinh yang kemudian menyuruh saya duduk di ruang tamu rumahnya, sambil dia menelpon ayahnya Thinh. Setelah itu dia bilang ayahnya Thinh dalam perjalanan ke sini (Ternyata ayahnya Thinh menunggu saya di Queen Hotel, maafkan saya Om karena ingin cari langsung lokasi rumahnya). Setelah basa-basi sebentar, menanyakan tujuan dan negara asal saya, ayahnya Thinh pun tiba. Saya pun pamit dan mengucapkan “Cam en” bahasa Vietnam terima kasih kepada bapak yang bisa berbahasa inggris tersebut. Warga di sini ternyata ramah-ramah, meskipun ibu yang sebelumnya tidak bisa berbahasa inggris, tetapi dia tetap mau membantu saya, bermodalkan membaca alamat rumah Thinh di Airbnb yang tertera di HP.

Setelah itu saya disambut oleh ayahnya Thinh yang ternyata tidak fasih berbahasa inggris. Kemudian dia menyuruh saya masuk kerumahnya dengan bahasa Vietnam dan tentunya dengan tangan yang mengarahkan saya agar masuk. Rumahnya masuk ke dalam lorong, masing-masing ujung lorong ada pintu pagar besi. Setelah melewati kedua pintu tersebut, ayahnya Thinh memberi saya 3 kunci gembok, 2 kunci untuk pagar besi dan 1 lagi kunci kamar yang akan saya tempati.

Sebelum diantar ke kamar saya di atas, ayahnya thinh menunjukkan lokasi WC dan cara pemakaian air panas. Tentunya dengan bahasa isyarat dan dipraktekkan langsung. Selain itu saya mengerti karena ayahnya Thinh sambil menyebutkan kata “Hot, Hot”, “Owh, okay, hot” balas saya sambil menganggukkan kepala. Selain itu saya juga ditunjukkan tempat wastafel dan sepeda yang disediakan oleh ayahnya Thinh, beserta kunci gembok sepedanya.

Baru kemudian saya diantar ke kamar di lantai atas. Tangga menuju ke atas agak sempit dan curam. Kamarnya dikunci dengan gembok besi. Setelah dibuka, saya lihat kondisi kamar sama persis dengan foto di Airbnb.

Setelah melepas sepatu dan masuk ke kamar, saya kira keset kakinya basah. Baru kemudian saya sadar ternyata suhu disini sangat dingin malam itu. Lantai keramiknya pun dingin dan seperti basah saat diinjak. Yah, saya datang di akhir bulan November dan saat itu sedang musim dingin di Vietnam Utara.

Setelah menunjukkan tempat tidur, tv, air minum dan termos berisi air panas yang disediakan, ayahnya Thinh pun meninggalkan saya. Ayahnya Thinh juga tinggal di sini, hanya saja kamar tidurnya di lantai dasar. Ternyata Thinh tidak berada di Ha Long saat itu, makanya dia menyewakan tempat tidurnya dan ayahnya yang bertugas sebagai host waktu itu.

Setelah beres-beres, mandi dan makan malam dengan nasi goreng yang saya beli di Hanoi, saya pun bersiap untuk tidur setelah perjalanan panjang dari Hanoi ke Ha Long. Yah, saya harus tidur cepat, karena besok paginya saya akan mengikuti lomba lari 10K pertama saya. Cuaca sangat dingin bagi saya malam itu sekitar 14C, tetapi saya tetap bisa tidur nyenyak.

Besok paginya saya bangun sebelum jam 7. Oh ya, waktu di Vietnam tidak berbeda dengan Waktu Indonesia Barat (WIB), jadi bagi saya yang tinggal di Pekanbaru, Riau tidak ada kendala dalam perbedaan waktu. Karena cuaca yang dingin, pagi itu saya hanya cuci muka dan gosok gigi. Setelah sarapan roti, saya pun turun dan berniat pergi ketempat start lomba lari dengan sepeda yang saya sewa seharga $5/hari.

Sebelum berangkat saya menanyakan arah untuk pergi ke lokasi start lomba lari pada ayahnya Thinh. Ternyata ayahnya thinh berbaik hati mengantar saya ke sana, setelah komunikasi alot dengan bahasa isyarat tentunya, hahaha. Ayahnya Thinh naik sepeda motor, disusul saya dengan sepeda. Ternyata lumayan jauh dan saya kehabisan nafas saat melewati jalan menanjak di jembatan. Setelah sampai di sana, ayah Thinh meminta nomor HP saya. Yah mungkin takut kalau saya sampai sesat dan ga tau jalan pulang, emang Bang Toyip apa, hahaha.

Pengalaman lomba larinya lain kali saja saya ceritakan di artikel berbeda. Skip-skip setelah lomba lari dan jalan-jalan keliling kota Ha Long dengan sepeda, ternyata ada jalan pintas menuju lokasi start lomba lari dari rumah ayah Thinh. Kok tadi saya malah diajak mutar yah? Mungkin ayah Thinh ingin saya lewat jalan yang bisa melihat pemandangan teluk Ha Long atau dikenal dengan sebutan Ha Long Bay melalui jembatan. Padahal saat lomba lari saya melalui jalan tersebut juga. Anyway thanks lagi ayahnya Thinh. Sampai saat ini saya masih tidak tahu nama ayahnya Thinh.

Setelah lomba lari dan pengalaman ke gunung Bai Tho yang gagal, saya ditawari memakai mesin cuci oleh ayahnya Thinh, tetapi saya tolak karena jam 4 sore nanti saya berencana check out. Sekitar jam 3 saat saya sedang istirahat, ayahnya Thinh mendatangi saya dan mengarahkan saya untuk meninggalkan kunci di dekat pagar besi dengan ditutupi helm motor, karena dia akan keluar dan tidak ada saat saya check out nantinya. Sebelum dia pergi saya membayar harga sewa sepeda. Kemudian kami berpisah dengan masing-masing mengucapkan kata “bye”.

Yah begitulah pengalaman pertama saya memakai Airbnb. Ayahnya Thinh sebagai tuan rumah sangat ramah dan baik, serta percaya saja dengan saya. Buktinya saat saya check out orang rumahnya tidak ada sama sekali, haha. Terima kasih juga karena telah mengantar saya ke lokasi start lomba lari, cam en.

Bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman tinggal di rumah warga lokal di Ha Long, rumah ayahnya Thinh adalah tempat yang cocok bagi Anda. Satu hal lagi, apabila Anda belum memiliki akun Airbnb, maka bisa daftar melalui link Airbnb saya dan mendapatkan $26 gratis melalui link berikut ini.

Note: Setelah membatalkan pesanan Grab Car saya di Ha Long dengan alasan driver tidak bisa berbahasa Inggris, pesanan saya selanjutnya di Vietnam selalu dapat balasan OK sebelum di confirm, kebetulan di note saya tulis “English please”. Entah karena kebetulan atau sudah di atur Grab saya juga tidak tahu, yang penting perjalanan Grab saya berikutnya tidak ada kendala komunikasi lagi, baik Grab Car maupun Grab Bike.

Leave a Reply