Minum egg coffee dengan granddaddy Pieter
Food,Life Lessons,Travel

Minum Egg Coffee dengan Granddaddy Pieter di Hanoi

Bagi teman-teman yang berencana ke Hanoi dan seorang pecinta kopi, bakal menyesal kalau tidak mencoba egg coffee atau kopi telur di sini. Warga lokal menyebutnya Cha Pe Trung. Ternyata Kopi sangat populer di sini. Selain Indonesia, Vietnam merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di Asean.

Tampilan egg coffee ini mirip dengan cappuccino. Bagian atasnya adalah kuning telur yang dikocok hingga kental, berbuih dan creamy. Dibawahnya adalah kopi hitam yang pahit. Egg coffee ini dihidangkan dalam sebuah cangkir kecil yang dimasukkan lagi ke dalam sebuah mangkok berisi air panas. Ok, cukup basa-basinya, langsung lihat aja ne gambar egg coffee yang saya minum di Hanoi.

Jangan lupa mampir dan mencicipi egg coffee yang bernama Giang cafe. Giang cafe adalah salah satu kedai kopi legendaris di Hanoi. Kedai kopi ini terletak di Old Quarter dan telah berjualan sejak tahun 1946. Lokasi kedai kopi ini tidak terlalu sulit ditemukan. Cuma butuh beberapa menit berjalan kaki bagi saya yang pertama kali ke Hanoi dan berada di Old Quarter saat itu. Dengan bermodalkan Google Maps dan koneksi internet tentunya. Cukup pastikan saja mata anda tajam karena papan namanya lumayan terselip diantara deretan ruko lainnya. Kebetulan di jalan ini banyak kedai kopi lainnya  yang menjual egg coffee juga, tetapi karena tujuan saya ke Hanoi adalah untuk mencoba egg coffee legendaris ini, maka kedai kopi lainnya saya abaikan, maaf ya.

Saat melihat papan nama kedai kopi ini jangan terkejut jika kalian harus berjalan masuk ke dalam lorong. Di sebelah kiri lorong ada tempat duduk untuk minum kopi, di sini banyak warga lokal yang minum kopi, di depannya ada kasir dan tempat membuat kopi. Kedai kopi ini berlantai 2 dan di lantai atasnya penuh dengan turis atau backpacker dari negara lain yang juga mencicipi egg coffee ini.

Suasana saat saya datang penuh dengan pengunjung, padahal saat itu sudah hampir jam 11 siang. Saya sampai harus bolak balik lantai dasar dan atas untuk mencari tempat duduk. Setelah kedua kalinya ke lantai atas, akhirnya saya mendapat tempat duduk pas di sebelah tiang tembok. Di sini saya berjumpa dan duduk dengan Mr.Pieter yang datang setelah saya.

Mr. Pieter datang sendirian juga ke sini sama halnya dengan saya. Dia ternyata adalah warga kebangsaan Belanda yang lahir di Jakarta, Indonesia. Kami membicarakan banyak hal sambil menunggu pesanan 2 cangkir egg coffee panas. Ya benar, ternyata ada 2 versi egg coffee di sini, panas dan dingin, karena cuaca dingin dan yang terkenal itu versi panas jadi saya pesan yang hot donk kayak saya :D.

Mr. Pieter sudah 2 minggu di Hanoi. Dia ke Hanoi dengan tujuan berjumpa dengan temannya yang warga lokal di sini. Dan setiap ke Hanoi dia pasti minum kopi di sini. Saat dia bertanya apakah saya minum kopi? dengan bangga saya jawab “every morning sir“. Lalu saya pun bertanya balik dengan Mr.Pieter dan jawabannya mencengangkan saya. Ternyata dia seorang pecandu kopi, hampir 15 cangkir kopi dalam 1 hari! Wow! pantasan dia cenges-ngesan saat saya jawab every morning sir.

Sebagai seorang yang lahir di Indonesia, ternyata dia juga suka minum kopi di Indonesia, “One of the best places to drink coffee besides here” katanya. Mr. Pieter sudah jalan-jalan ke banyak tempat di Indonesia, lebih banyak dari sayalah intinya. Dia pernah ke Jakarta tentunya, Medan di danau toba, Bali, Sulawesi dan daerah lainnya yang dia sebutkan tapi saya sudah lupa, hehe.  Dan dari semua tempat yang pernah dia kunjungi di Indonesia, tempat favoritnya adalah di Sulawesi, “beautiful places” katanya. Tapi saya lupa menanyakan Sulawesi bagian mana dan apa nama tempatnya hahaha. Maklumlah ngomongnya pakai bahasa Inggris, jadi agak terbatas yang mau diomongin sama yang mau didengarin.

Ngomong-ngomong kopinya mana ya? kok ga datang-datang, padahal sudah diingatkan 2 kali. Mau ga mau akhirnya saya turun ke lantai dasar untuk mengingatkan lagi egg coffee nya. Dan setelah diingatkan kali ini akhirnya egg coffee terhidang juga di meja mungil kami. Orang vietnam makannya di meja dengan tinggi setengah badan kita pas jongkok dan kursinya setinggi setengah meja tadi. Terbayangkan duduknya kayak di meja lipat kecil untuk belajar anak-anak.

Ops! satu lagi topik yang tentunya sangat historis antara Indonesia dan Belanda. Apalagi kalau bukan saat zaman kolonial Belanda ke negara kita. Mr. Pieter dengan sengaja mengangkat topik itu dan bilang apa yang dilakukan Belanda ke Indonesia saat itu tidak baik. Selain itu topik obrolan sampai ke Jakarta, dimana dia pernah bertemu 2 orang Indonesia di sana yang sangat fasih berbahasa Belanda kuno. Dia juga menanyakan apa saya pernah berjumpa orang yang bisa berbahasa Belanda di Pekanbaru, Riau. “Nope, Never Sir” jawab saya dengan yakin sekali. Emang belum pernah jumpa soalnya, jadi ya jawab dengan jujur donk, hahaha.

Cerita punya cerita ternyata saya orang Indonesia pertama yang dia jumpa di Hanoi. Wow! agak bangga gimana gitu ya, wakaka.

Akhirnya topik obrolan masuk ke masalah lebih pribadi, ya tentang keluarga. Mr. Pieter ternyata seumuran bapak saya, sekitar 60 tahun. Saat ini dia punya 3 orang anak, saya lupa 2 cowok 1 cewek atau sebaliknya. Dia baru saja menjadi kakek 5 minggu yang lalu katanya. Saat saya menanyakan bagaimana perasaanya saat menjadi kakek? Dia jawab “horrible” sambil ketawa-ketawi tentunya.

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang kami bicarakan seputar keluarga Mr. Pieter maupun pekerjaannya. Tetapi lebih baik tidak saya tulis di sini, karena bersifat privasi. Walaupun dia memberitahu saya, belum tentu dia mau semua dunia tahu dengan saya tulis di blog ini, hahaha.

Oh ya, balik ke topik egg coffee. Bagaimana sih rasanya? Saya bilang ke Mr. Pieter saya tidak yakin apakah saya akan suka dengan egg coffee, karena di Indonesia ada namanya ‘teh talua’ dan saya kurang suka dengan minuman tersebut, tetapi kata Mr.Pieter “No, you will like it, you will like it” dengan yakinnya.

Ini nih momen yang di tunggu-tunggu, saat saya mencoba egg coffee Vietnam. Pertama saya coba mencicipi egg coffee dengan makan creamnya melalui sendok kecil. Rasa telurnya kurang terasa (dalam arti baik), bagi Anda yang tidak suka telur mentah pasti tahu maksud saya. Kemudian saya langsung minum dengan cangkirnya. Kopi hitam di dasar gelas masuk kemulut saya dengan sebagian cream diatasnya. Rasa pahit kopi dan manis kental cream sungguh perpaduan yang enak. Ternyata Mr. Pieter benar, saya suka dengan rasa egg coffee ini. Walaupun bukan seorang pecinta kopi, saya benar-benar menikmati minum egg coffee di sini apalagi ditemani sahabat baru saya Mr.Pieter.

Tidak terasa sudah hampir 1 jam saya minum egg coffee dan mengobrol dengan Mr. Pieter di Giang Cafe. Yah setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Sebelum berpisah Mr. Pieter bilang dia akan traktir saya, tapi saya tolak dan bilang saya yang harus traktir dia. Tetapi Mr. Pieter tetap bersikeras mau traktir “No, let me pay this time” katanya. Yah sudahlah, dengan senang hati saya terima tentunya :D.

Sebelum berpisah saya bilang “Bye and thank you for the coffee Mr. Pieter”. Kemudian dijawab Mr. Pieter “Please, don’t call me Mr, just call me Pieter or Granddaddy”. “Oh okay, thank you granddaddy Pieter” jawab saya. Setelah itu kami benar-benar berpisah dengan saya berjalan ke arah kanan dan Granddaddy Pieter ke arah kiri. Sekali lagi saya salah, ternyata bukan seorang sahabat yang saya dapatkan kali ini, tetapi sosok seorang kakek.

Note: Granddaddy Pieter, if you ever read this. I write some of the conversation we did on Giang Cafe at Old Quarter, Hanoi. It’s very nice and happy to meet you there. Like you said, I should explore Indonesia more next time. Thank you.

2 Comments

Leave a Reply